MARKET NEWS

Harga Minyak Brent Melonjak 9 Persen Sepekan, Ditutup Tertinggi sejak Juli 2022

TIM RISET IDX CHANNEL 21/03/2026 11:25 WIB

Harga minyak melonjak pada Jumat (20/3/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Irak menyatakan force majeure.

Harga Minyak Brent Melonjak 9 Persen Sepekan, Ditutup Tertinggi sejak Juli 2022. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak melonjak pada Jumat (20/3/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Irak menyatakan force majeure pada seluruh ladang minyak yang dikembangkan perusahaan asing.

Kenaikan juga dipicu eskalasi perang Iran, dengan Amerika Serikat (AS) bersiap mengerahkan ribuan marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah.

Kontrak Brent untuk pengiriman Mei ditutup naik 3,26 persen menjadi USD112,19 per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April, yang berakhir pada Jumat, menguat 2,27 persen ke USD98,32. Kontrak WTI bulan kedua yang lebih aktif diperdagangkan ditutup di USD98,23, terkerek 2,8 persen.

Pada puncak sesi, harga Brent sempat melonjak lebih dari USD4.

Perang antara AS dan Israel melawan Iran belum menunjukkan tanda mereda, dengan serangan terhadap infrastruktur energi utama di Iran serta balasan serangan ke negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait.

“Ini adalah skenario terburuk. Bukan hanya force majeure di Irak, tetapi juga penumpukan besar pasukan AS di Teluk Persia. Harapan akan penyelesaian cepat dan kembalinya pasokan ke pasar global melalui Selat Hormuz kini memudar di depan mata,” kata Partner Again Capital John Kilduff, seperti dikutip Reuters.

Secara mingguan, Brent naik hampir 9 persen, tepatnya 8,8 persen, sementara WTI bulan terdepan justru turun sekitar 0,4 persen dibanding penutupan Jumat pekan lalu.

Selisih harga WTI terhadap Brent juga melebar ke level terbesar dalam 11 tahun pada Rabu.

Pasar minyak mulai memperhitungkan gangguan pasokan yang lebih lama akibat serangan, serta kemungkinan butuh waktu beberapa pekan, setidaknya, sebelum Selat Hormuz kembali dibuka.

Kepala strategi komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan, “potensi pembalikan cepat harga energi kecil kemungkinan terjadi karena kerusakan pada produksi sudah terjadi.”

Pada Jumat, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada lagi pemimpin Iran yang bisa diajak berunding, sementara serangan militer terus menargetkan pejabat Iran. Ia juga kembali menegaskan tuntutan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Israel dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Jumat, menyusul serangan terhadap kilang minyak di Kuwait.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Israel tidak akan mengulangi serangan terhadap fasilitas energi.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pencabutan sanksi terhadap kargo minyak Iran yang tertahan di laut dapat mengalirkan pasokan ke Asia dalam tiga hingga empat hari.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya juga menyampaikan rencana tersebut.

Bessent menambahkan, pelepasan tambahan minyak dari cadangan strategis AS masih dimungkinkan, sementara Wright menyebut realisasinya akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Fokus pada Selat Hormuz

Analis menilai harga akan tetap tinggi selama lalu lintas di Selat Hormuz terganggu, bahkan kemungkinan masih bertahan setelahnya. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut.

“Selama aliran minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas, arah harga minyak cenderung terus naik,” tutur Analis UBS Giovanni Staunovo.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan, pemulihan aliran minyak dan gas dari Teluk Timur Tengah bisa memakan waktu hingga enam bulan.

Pemerintahan Trump juga disebut tengah mempertimbangkan rencana untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg di Iran guna menekan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang berpotensi semakin menekan pasokan.

Pada Kamis, harga Brent sempat melesat di atas USD119 per barel, mendekati puncak 9 Maret, setelah Iran merespons serangan Israel ke ladang gas besar dengan melumpuhkan 17 persen kapasitas LNG Qatar.

Kerusakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki.

Di sisi lain, Rusia dilaporkan menyerang fasilitas minyak dan gas Ukraina di wilayah Poltava dan Sumy, menurut perusahaan energi negara Naftogaz pada Jumat.

Sementara itu, jumlah rig minyak di AS bertambah dua unit menjadi 414 pekan ini, tertinggi sejak pertengahan Desember, menurut laporan perusahaan jasa energi Baker Hughes. (Aldo Fernando)

SHARE