Harga Minyak Catat Kenaikan Mingguan Pertama dalam 3 Pekan
Pelaku pasar semakin yakin bahwa kemungkinan pecahnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin kecil.
IDXChannel - Harga minyak turun pada Jumat (5/6/2026) setelah pelaku pasar semakin yakin bahwa kemungkinan pecahnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin kecil.
Minyak mentah Brent ditutup di level USD93,09 per barel, turun 2,04 persen. Pada sesi sebelumnya, Brent juga ditutup melemah 2,84 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD90,54 per barel, merosot 2,69 persen, setelah anjlok 3,1 persen pada Kamis.
"Pasar tidak melihat adanya eskalasi antara pihak-pihak yang terlibat," kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, seperti dikutip Reuters.
"Meskipun belum ada kesepakatan, pasar tampaknya melihat adanya deeskalasi ketegangan," ujarnya.
Petroleum Development Oman menyatakan operasional di pelabuhan Mina al Fahal tidak terdampak, setelah tiga sumber Reuters sebelumnya mengatakan aktivitas pemuatan minyak sempat dihentikan menyusul ledakan di dekat area tambatan kapal.
Oman mengekspor sekitar 800.000 hingga 900.000 barel minyak mentah per hari melalui terminal tersebut.
Meski melemah pada Jumat, kedua kontrak minyak berhasil membukukan kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan. Brent tercatat naik 2,16 persen sepanjang pekan, sementara WTI menguat sekitar 3,64 persen.
Harga minyak sempat menguat pada awal pekan setelah pertempuran kembali memanas di Timur Tengah.
Negosiasi perdamaian antara AS dan Iran berjalan lambat, sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, masih terbatas.
"Harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran kembali pupus sehingga harga minyak Brent dan gas alam Eropa mencatat kenaikan tipis pekan ini," kata analis Commerzbank dalam catatan pada Jumat.
Namun, menurut Commerzbank, kenaikan Brent masih tertahan oleh persediaan minyak yang bertahan lebih lama dari perkiraan, pengalihan rute ekspor, serta melemahnya permintaan.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran.
Iran menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat bagi tercapainya kesepakatan damai dengan Washington.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan dirinya meyakini kemajuan sedang dicapai antara Israel dan Lebanon serta menilai Lebanon layak memperoleh perdamaian.
"Setiap optimisme masih dibayangi oleh arus berita dan bantahan yang saling bertentangan," kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari tahun ini.
Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, menyampaikan pandangan tersebut pada Kamis meskipun konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz masih berlangsung.
Data pelayaran menunjukkan ekspor minyak Iran turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir, terutama akibat blokade angkatan laut AS. Namun, lemahnya permintaan dari China turut menekan harga minyak Iran. (Aldo Fernando)