MARKET NEWS

Harga Minyak Diproyeksi Turun, Pasar Obligasi Masih Dibayangi Konflik Iran 

Desi Angriani 17/05/2026 22:06 WIB

Ketidakjelasan mengenai waktu tercapainya perdamaian masih menjadi sumber utama volatilitas pasar.

Harga Minyak Diproyeksi Turun, Pasar Obligasi Masih Dibayangi Konflik Iran (Foto: dok AP)

IDXChannel - Ketidakpastian perang antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi pasar obligasi dan energi global, meski Presiden AS Donald Trump telah menyatakan keinginannya untuk mengakhiri konflik tersebut.

Firma riset investasi Alpine Macro menilai, ketidakjelasan mengenai waktu tercapainya perdamaian masih menjadi sumber utama volatilitas pasar, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter Amerika Serikat pascaperang.

Chief Geopolitical Strategist Alpine Macro, Dan Alamariu, memperkirakan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam satu hingga dua pekan ke depan sebesar 50 persen.

Namun, peluang yang sama juga terbuka bagi kembalinya serangan militer apabila Amerika Serikat memilih meningkatkan tekanan terhadap Iran sebagai strategi untuk memaksa de-eskalasi konflik.

“Blokade yang terjadi saat ini pada akhirnya tidak akan berkelanjutan, dan kemungkinan besar akan ada kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam satu hingga dua bulan mendatang,” tulis Alpine Macro dilansir dari Investing, Minggu (17/5/2026).

Firma tersebut merekomendasikan investor mempertahankan posisi pada obligasi jangka panjang (long duration bonds), sambil memanfaatkan potensi rotasi sektor energi hingga akhir tahun.

Menurut Alpine Macro, saham produsen energi dan saham sektor yang rentan terhadap harga energi diperkirakan akan bertukar posisi seiring perubahan arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.

Meski perang sempat memicu kekhawatiran pasar, Alpine Macro menilai pasar saham global relatif tetap tangguh terhadap gejolak geopolitik. Sebaliknya, pasar obligasi dinilai menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap konflik AS-Iran karena investor khawatir lonjakan harga energi akan memperburuk tekanan inflasi.

Namun, firma tersebut justru menyarankan investor mengabaikan ketakutan inflasi jangka pendek dan memperkirakan harga obligasi maupun saham akan lebih tinggi dalam tiga hingga enam bulan mendatang.

Alpine Macro juga memperkirakan harga minyak dunia akan turun signifikan dalam tiga hingga enam bulan ke depan seiring meredanya ketegangan geopolitik.

Penurunan harga minyak diyakini akan membantu menekan inflasi kembali ke level normal sekaligus mempermudah langkah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam menjaga stabilitas ekonomi tanpa perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.

“Biaya energi yang jauh lebih rendah akan mempermudah tugas The Fed dan mengurangi tekanan bagi pemerintahan Trump untuk memberikan stimulus fiskal agresif menjelang pemilu paruh waktu,” tulis analis Alpine Macro.

Firma tersebut mengatakan, aksi jual di pasar obligasi kemungkinan segera berakhir, sebab tekanan harga akibat tarif impor dan lonjakan energi sebelumnya diperkirakan tidak akan bertahan lama.

Di sisi lain, Alpine Macro menyebut kinerja laba emiten yang kuat, tidak adanya kenaikan suku bunga The Fed, serta ekspektasi turunnya harga minyak telah membuat pasar saham tetap resilien.

(DESI ANGRIANI)

SHARE