Harga Minyak Jatuh 4 Persen, Pernyataan Trump Redam Risiko Iran
Harga minyak ditutup turun sekitar 4 persen pada Kamis (15/1/2026), mengakhiri reli lima hari berturut-turut.
IDXChannel - Harga minyak ditutup turun sekitar 4 persen pada Kamis (15/1/2026), mengakhiri reli lima hari berturut-turut.
Pelemahan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan penindakan terhadap demonstran di Iran mulai mereda, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi aksi militer dan gangguan pasokan minyak dari Iran.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 4,15 persen ke level USD63,76 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot 4,56 persen menjadi USD59,19 per barel.
Dalam beberapa sesi sebelumnya, kedua kontrak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Trump menyatakan mendapat laporan bahwa pembunuhan dalam penindakan protes di Iran mulai berkurang dan ia meyakini tidak ada rencana saat ini untuk eksekusi besar-besaran.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap ‘tunggu dan lihat’, setelah sebelumnya ia sempat melontarkan ancaman intervensi.
Komentar itu menurunkan premi risiko yang sempat terakumulasi dalam beberapa hari terakhir, kata para analis. Pada Rabu, harga Brent sempat mencapai USD66,82 per barel, level tertinggi sejak September.
“Kita bergerak dari kemungkinan tinggi bahwa Trump akan menyerang Iran menjadi kemungkinan yang rendah. Itulah sumber utama tekanan penurunan harga hari ini,” ujar Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.
Seorang pejabat AS pada Rabu juga menyebutkan bahwa Washington menarik sebagian personel dari pangkalan militer di Timur Tengah.
Langkah ini diambil setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran telah memberi tahu negara-negara tetangga bahwa mereka akan menyerang pangkalan AS jika Washington melancarkan serangan.
Tekanan tambahan datang dari kenaikan persediaan minyak mentah dan bensin AS pekan lalu yang melampaui perkiraan analis, menurut data Badan Informasi Energi (EIA).
Di tempat lain, Venezuela mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan di bawah embargo AS, dengan ekspor minyak mentah kembali berjalan, menurut tiga sumber.
Sentimen pasar juga cenderung melemah setelah adanya pembicaraan telepon yang dinilai positif antara Trump dan Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez pada Rabu.
Harapan stabilitas jangka pendek memicu perkiraan lebih banyak minyak Venezuela akan masuk pasar dalam beberapa pekan ke depan.
“Itu akan menahan harga,” kata Flynn.
Dari sisi permintaan, OPEC pada Rabu menyatakan permintaan minyak pada 2027 kemungkinan meningkat dengan laju yang mirip tahun ini.
OPEC juga merilis data yang menunjukkan kondisi pasokan dan permintaan global yang hampir seimbang pada 2026, berbeda dengan sejumlah proyeksi lain yang memperkirakan kelebihan pasokan.
Sementara itu, impor minyak mentah China pada Desember melonjak 17 persen dibandingkan setahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, total impor naik 4,4 persen, dengan volume impor harian mencetak rekor tertinggi, berdasarkan data pemerintah. (Aldo Fernando)