MARKET NEWS

Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Dampak Badai Musim Dingin

TIM RISET IDX CHANNEL 27/01/2026 07:23 WIB

Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (26/1/2026), setelah sempat melonjak lebih dari 2 persen pada hari sebelumnya.

Harga Minyak Melemah, Pasar Cermati Dampak Badai Musim Dingin. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (26/1/2026), setelah sempat melonjak lebih dari 2 persen pada hari sebelumnya.

Pelaku pasar menimbang dampak badai musim dingin terhadap produksi di wilayah penghasil minyak Amerika Serikat (AS), sekaligus mencermati potensi ketegangan antara Negeri Paman Sam dan Iran.

Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 0,4 persen ke USD65,59 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 44 sen atau 0,7 persen ke USD60,63 per barel.

Meski demikian, kedua acuan tersebut mencatat kenaikan mingguan 2,7 persen dan pada Jumat lalu ditutup di level tertinggi sejak 14 Januari.

Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari, atau sekitar 15 persen dari total produksi nasional, selama akhir pekan akibat badai musim dingin yang melanda dan menekan infrastruktur energi serta jaringan listrik.

Konsultan Energy Aspects menilai, dikutip dari Reuters, gangguan produksi mencapai puncaknya pada Sabtu, dengan Cekungan Permian menyumbang penurunan terbesar sekitar 1,5 juta barel per hari.

Pada Senin, gangguan mulai mereda, dengan penutupan produksi di Permian diperkirakan sekitar 700.000 barel per hari, dan produksi diperkirakan pulih sepenuhnya pada 30 Januari.

Di Texas, tercatat sekitar dua lusin laporan gangguan di pabrik pengolahan gas alam dan stasiun kompresor sepanjang akhir pekan, berdasarkan dokumen regulator.

Namun, jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan lebih dari 200 laporan gangguan selama lima hari pertama badai musim dingin parah pada 2021, menurut analis TACenergy.

Sementara itu, Kazakhstan bersiap melanjutkan produksi di ladang minyak terbesarnya, menurut pernyataan kementerian energi pada Senin.

Namun, sumber industri menyebut volume produksi masih rendah dan status force majeure atas ekspor CPC Blend masih berlaku.

Konsorsium Pipa Kaspia (CPC), operator pipa ekspor utama Kazakhstan, mengatakan terminal Laut Hitamnya telah kembali beroperasi penuh setelah perawatan di salah satu dari tiga titik tambat selesai.

Dari sisi geopolitik, pelaku pasar tetap waspada terhadap risiko yang meningkat seiring ketegangan AS-Iran.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan AS memiliki “armada” yang bergerak menuju Iran, meski berharap tidak perlu menggunakannya, sambil kembali memperingatkan Teheran agar tidak membunuh pengunjuk rasa atau mengaktifkan kembali program nuklirnya.

Pada Jumat, seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya akan memperlakukan setiap serangan sebagai “perang total”.

“Secara keseluruhan, minyak mentah masih bergerak dalam pola menahan diri sampai ada kejelasan bagaimana pemerintahan Trump akan menangani Iran,” kata Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial Dennis Kissler.

Ia menambahkan, kelanjutan pembicaraan damai Ukraina-Rusia-AS serta sikap OPEC yang kemungkinan mempertahankan kebijakan produksi saat ini pada pertemuan mendatang tetap menjadi faktor penekan harga.

OPEC+ diperkirakan mempertahankan jeda kenaikan produksi untuk Maret pada pertemuan Minggu, menurut tiga delegasi OPEC+ kepada Reuters.

Produksi shale AS berpotensi turun hingga 400.000 barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC berupaya merebut pangsa pasar dan harga minyak jatuh hingga USD40 per barel, ujar CEO Rystad Energy Jarand Rystad. (Aldo Fernando)

SHARE