MARKET NEWS

Harga Minyak Melonjak 3 Persen Dipicu Serangan Iran ke UEA

TIM RISET IDX CHANNEL 18/03/2026 06:02 WIB

Harga minyak ditutup melonjak lebih dari 3 persen pada Selasa (18/3/2026), setelah serangan terbaru Iran ke Uni Emirat Arab (UEA).

Harga Minyak Melonjak 3 Persen Dipicu Serangan Iran ke UEA. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak ditutup melonjak lebih dari 3 persen pada Selasa (18/3/2026), setelah serangan terbaru Iran ke Uni Emirat Arab (UEA) meningkatkan kekhawatiran terhadap memburuknya prospek pasokan global, jika perang AS-Israel melawan Iran, yang kini memasuki pekan ketiga, tidak segera mereda.

Kontrak berjangka (futures) minyak Brent ditutup meningkat 3,2 persen ke USD103,42 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat 2,9 persen ke USD96,21 per barel.

Konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Meski harga minyak tidak kembali melonjak ke kisaran hampir USD120 per barel seperti awal bulan, serangan terhadap fasilitas minyak serta gangguan berkelanjutan pada pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi sorotan pasar.

Kondisi ini mendorong pelaku pasar bersiap menghadapi gangguan pasokan jangka panjang yang berpotensi menjaga harga tetap tinggi.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan risiko masih sangat besar.

“Cukup satu milisi Iran menembakkan rudal atau menanam ranjau pada tanker yang melintas untuk memicu kembali eskalasi situasi secara luas,” tulis Sycamore, seperti dikutip Reuters.

Iran kembali melancarkan serangan ke UEA pada Selasa, menyebabkan aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah setidaknya sebagian terhenti setelah serangan ketiga dalam empat hari memicu kebakaran di terminal ekspor.

Fujairah, yang terletak di Teluk Oman di luar Selat Hormuz, merupakan titik keluar penting bagi volume minyak setara sekitar 1 persen permintaan global.

Penutupan efektif selat tersebut memaksa UEA, produsen terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), memangkas produksi lebih dari setengahnya, menurut dua sumber kepada Reuters.

Harga minyak acuan Timur Tengah melonjak ke rekor tertinggi dan menjadi yang termahal di dunia, seiring pelaku pasar menilai lonjakan harga dipicu oleh berkurangnya pasokan yang tersedia untuk pengiriman.

Gangguan Parah

Sejumlah sekutu AS menolak permintaan presiden Donald Trump pada Senin untuk mengirim kapal perang guna mengawal pelayaran di selat tersebut.

Penolakan ini menuai kritik dari presiden AS yang menuding mitra Barat tidak menunjukkan rasa terima kasih setelah puluhan tahun dukungan.

Menteri pertahanan Jerman menanggapi, “Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya.”

Pada Selasa, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi membuka blokade selat, dan hanya akan berpartisipasi dalam koalisi yang menjamin kebebasan navigasi setelah konflik berakhir.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, mengatakan kepada CNBC International bahwa kapal tanker mulai melintasi Selat Hormuz, seraya menegaskan pandangan pemerintah AS bahwa konflik Iran diperkirakan berlangsung dalam hitungan pekan, bukan bulan.

Pada Senin, Brent sempat turun 2,8 persen dan WTI melemah 5,3 persen setelah beberapa kapal berhasil melintas.

Bank investasi Cavendish dalam catatannya menyebut, meski hal itu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan langsung pasokan dari Timur Tengah, pelaku pasar masih memperkirakan disrupsi tetap parah.

Sejumlah kapal yang melintasi selat tersebut termasuk yang dioperasikan Iran.

Analis OANDA, Kelvin Wong, mengatakan harga minyak masih berpotensi naik hingga akhir Maret, dengan analisis teknikal menunjukkan resistance jangka menengah WTI di kisaran USD124 per barel.

Untuk meredam kenaikan biaya energi, kepala International Energy Agency (IEA) menyarankan negara anggota dapat melepas tambahan pasokan minyak, di luar 400 juta barel yang telah disepakati untuk dilepas dari cadangan strategis. (Aldo Fernando)

SHARE