Harga Minyak Melonjak 5 Persen, Harapan Pembukaan Selat Hormuz Meredup
Harga minyak mentah ditutup menguat sekitar 5 persen pada Senin (10/8/2026), setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling menyampaikan tuntutan.
IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup menguat sekitar 5 persen pada Senin (10/8/2026), setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling menyampaikan tuntutan terkait kompensasi.
Perkembangan tersebut mengurangi harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Iran menyatakan AS harus mencabut sanksi terhadap Teheran serta memenuhi sejumlah persyaratan lain sebelum jalur pelayaran strategis tersebut dibuka kembali.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran harus membayar kompensasi atas "semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai secara serius."
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup melonjak 4,99 persen menjadi USD87,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 5,05 persen menjadi USD82,13 per barel.
Kenaikan persentase tersebut menjadi yang terbesar sejak 29 Juli untuk kedua kontrak minyak tersebut.
Sebelumnya, harga Brent dan WTI jatuh lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu karena pasar berharap Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelum konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, jalur strategis tersebut menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz.
Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa AS harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memberikan kompensasi serta menghentikan sanksi dan ancaman militer sebelum selat tersebut dibuka kembali.
Iran dan AS saat ini tidak sedang melakukan perundingan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada Minggu bahwa Teheran tidak akan memulai pembicaraan selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.
"Kontrak minyak mentah menguat pada perdagangan Senin karena kesepakatan damai AS-Iran tampaknya tertunda, ditambah serangan Ukraina yang kembali menyasar kilang dan kapal tanker Rusia di Laut Hitam," ujar Dennis Kissler, senior vice president of trading di BOK Financial, dikutip Reuters.
Kissler menambahkan, tuntutan tambahan dari Iran membuat sebagian besar pelaku pasar menilai pengetatan pasokan dalam jangka pendek lebih mungkin berlangsung lebih lama.
Ancaman terhadap pasokan juga datang dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Kelompok tersebut menyatakan telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu.
Saudi Aramco menunda pengoperasian kembali kilang berkapasitas 400.000 barel per hari tersebut hingga 30 Agustus setelah dua serangan Houthi dalam beberapa pekan terakhir, menurut pemberitahuan dari pemantau industri IIR yang dilihat Reuters.
Serangan terbaru terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan sekutu Muslim Sunni, Turki dan Pakistan, sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan kawasan akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Di sisi lain, perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab, ADNOC, menyatakan pada Jumat bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai.
Sementara itu, militer Ukraina terus menyerang infrastruktur energi Rusia. Serangan Ukraina menghantam kilang minyak Taneco di Tatarstan serta fasilitas petrokimia ZapSibNeftekhim di wilayah Tyumen, Rusia. (Aldo Fernando)