MARKET NEWS

Harga Minyak Melonjak 5 Persen, Kekhawatiran Pasokan Kalahkan Rencana IEA

TIM RISET IDX CHANNEL 12/03/2026 06:30 WIB

Harga minyak ditutup melonjak hampir 5 persen pada Rabu (11/3/2026) setelah serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

Harga Minyak Melonjak 5 Persen, Kekhawatiran Pasokan Kalahkan Rencana IEA. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak ditutup melonjak hampir 5 persen pada Rabu (11/3/2026) setelah serangan baru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran gangguan pasokan.

Para analis menilai usulan Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor belum cukup meredakan kekhawatiran tersebut.

Kontrak minyak (futures) Brent naik 4,8 persen menjadi USD91,98 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 4,6 persen dan ditutup di USD87,25 per barel.

Mengutip Reuters, perusahaan keamanan maritim dan manajemen risiko pada Rabu melaporkan tiga kapal lagi terkena proyektil di Selat Hormuz.

Dengan demikian, jumlah kapal yang terdampak di kawasan tersebut mencapai sedikitnya 14 sejak perang Iran dimulai.

Aktivitas pelayaran di selat sempit itu hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.

Kondisi ini menghambat ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya siap mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz bila diperlukan.

Namun, sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut AS menolak permintaan industri pelayaran untuk pengawalan militer karena risiko serangan masih terlalu tinggi untuk saat ini.

Di sisi lain, IEA merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak, yang menjadi langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut, untuk menekan harga energi yang telah melonjak lebih dari 25 persen sejak perang dimulai.

IEA menyatakan waktu pelaksanaan pelepasan cadangan tersebut akan ditentukan kemudian.

Jumlah yang diusulkan itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan 182 juta barel yang dilepas pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Namun, para analis menilai volume tersebut tetap belum cukup untuk menutup potensi kehilangan pasokan akibat perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Analis Macquarie memperkirakan volume yang diusulkan setara sekitar empat hari produksi minyak global atau sekitar 16 hari volume minyak mentah yang biasanya melintasi Teluk.

"Jika terdengar tidak banyak, memang demikian," tulis para analis dalam catatannya.

Harga minyak juga mengabaikan laporan pemerintah AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah di negara produsen terbesar dunia itu meningkat lebih besar dari perkiraan pekan lalu. Di sisi lain, stok bensin dan bahan bakar distilat, yang mencakup solar dan bahan bakar jet, turun lebih besar dari perkiraan.

Kekhawatiran Pasokan Masih Membayangi

Perusahaan minyak negara Abu Dhabi, ADNOC, menutup kilang Ruwais setelah terjadi kebakaran di salah satu fasilitas kompleks tersebut akibat serangan drone, menurut seorang sumber.

Insiden ini menjadi gangguan terbaru pada infrastruktur energi yang dipicu perang Iran.

Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, terlihat meningkatkan pasokan melalui jalur Laut Merah.

Namun, data pelayaran menunjukkan volume tersebut masih jauh dari cukup untuk menggantikan penurunan aliran minyak dari Selat Hormuz.

Kerajaan itu mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk membantu meningkatkan ekspor guna menghindari pemangkasan produksi yang lebih tajam, setelah negara tetangganya seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab lebih dulu menurunkan produksi.

Konsultan energi Wood Mackenzie menyebut perang saat ini memangkas pasokan minyak dan produk minyak dari kawasan Teluk sekitar 15 juta barel per hari, yang dapat mendorong harga minyak mentah hingga USD150 per barel.

"Namun, bahkan jika konflik cepat mereda, pasar energi kemungkinan masih menghadapi gangguan selama beberapa pekan," tulis Morgan Stanley dalam catatannya. (Aldo Fernando)

SHARE