MARKET NEWS

Harga Minyak Melonjak 6 Persen Sepekan, Brent Tembus USD94 per Barel

TIM RISET IDX CHANNEL 22/08/2026 11:20 WIB

Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Brent membukukan kenaikan 6,39 persen dalam sepekan.

Harga Minyak Melonjak 6 Persen Sepekan, Brent Tembus USD94 per Barel. (Foto: Magnific)

IDXChannelHarga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Brent membukukan kenaikan 6,39 persen dalam sepekan di tengah meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup naik 0,65 persen menjadi USD94,39 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 0,26 persen menjadi USD87,06 per barel.

Dalam sepekan, harga Brent telah menguat 6,39 persen, sedangkan WTI naik 5,66 persen. Keduanya sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada perdagangan Kamis (20/8).

Penguatan harga minyak dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.

Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pengetatan pasokan minyak dalam beberapa pekan mendatang.

“Sanksi merupakan satu-satunya hal yang mampu membuat Iran tunduk,” kata Partner Again Capital, John Kilduff, seperti dikutip Reuters.

Iran pada Jumat menyatakan respons terhadap ancaman baru AS akan “menghancurkan”, setelah Washington berjanji menjatuhkan sanksi keuangan paling berat dalam sejarah dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.

Analis riset Empire FX Crispus Nyaga menilai dampak langsung terhadap pasokan kemungkinan masih terbatas karena ekspor minyak Iran telah tertekan akibat blokade laut AS.

“Namun, meningkatnya insiden pelayaran dan aksi balasan terhadap sanksi ekonomi dapat memperburuk situasi saat ini, terutama ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah jalur alternatif dan sumber pasokan lain mulai ditemukan ketika aktivitas di Selat Hormuz masih terbatas.

“Selat Hormuz masih menjadi masalah, tetapi bukan lagi satu-satunya cerita. Jalur pipa, kapal pengangkut, minyak serpih AS, Venezuela yang mulai pulih meski masih menghadapi hambatan, serta Uni Emirat Arab yang tidak mengalami kendala, semuanya menambah pasokan minyak,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari kekhawatiran atas berlanjutnya pembatasan pasokan oleh sejumlah produsen minyak utama, termasuk Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Kesepakatan damai sebelumnya antara AS dan Iran berakhir pada pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua pihak untuk kembali membuka perundingan.

Sementara itu, penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di China menurun dan harga minyak meningkat pada pekan ini. Kondisi tersebut terjadi ketika blokade AS memangkas pengiriman minyak Iran, sementara ancaman sanksi tambahan dari Washington masih membayangi pasar.

Gangguan di Selat Hormuz juga terus menjadi perhatian. Data pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (20/8), atau sekitar setengah dari jumlah kapal pada hari sebelumnya.

Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Ketika konflik mendekati enam bulan, gangguan terhadap arus energi melalui jalur strategis tersebut masih berlangsung. (Aldo Fernando)

SHARE