Harga Minyak Melonjak Lagi, Saham ELSA-ENRG Cs Justru Tertekan
aham sektor minyak dan gas (migas) cenderung terkoreksi pada perdagangan Selasa (11/8/2026), meski harga minyak mentah dunia kembali melonjak.
IDXChannel – Saham sektor minyak dan gas (migas) cenderung terkoreksi pada perdagangan Selasa (11/8/2026), meski harga minyak mentah dunia kembali melonjak di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait konflik Iran-Amerika Serikat (AS) dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.29 WIB, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 1,57 persen ke Rp1.255 per unit.
Pelemahan juga terjadi pada saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang turun 1,20 persen ke Rp4.930 per unit. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) terkoreksi 0,56 persen.
Sementara itu, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) tergelincir 0,71 persen, sedangkan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terdepresiasi 0,36 persen.
Berbeda dari mayoritas saham migas, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) justru menguat 1,93 persen.
Pergerakan saham tersebut terjadi ketika harga minyak mentah dunia kembali menguat tajam.
Harga minyak ditutup naik sekitar 5 persen pada Senin (10/8), setelah Iran dan AS saling menyampaikan tuntutan terkait kompensasi dalam upaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut mengurangi harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Iran menyatakan AS harus mencabut sanksi terhadap Teheran serta memenuhi sejumlah persyaratan lain sebelum jalur pelayaran strategis tersebut dibuka kembali.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran harus membayar kompensasi atas "semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai secara serius."
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup melonjak 4,99 persen menjadi USD87,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 5,05 persen menjadi USD82,13 per barel.
Kenaikan persentase tersebut menjadi yang terbesar sejak 29 Juli untuk kedua kontrak minyak tersebut.
Sebelumnya, harga Brent dan WTI jatuh lebih dari 7 persen sepanjang pekan lalu karena pasar berharap Iran dan Oman segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelum konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, jalur strategis tersebut menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz.
Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa AS harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memberikan kompensasi serta menghentikan sanksi dan ancaman militer sebelum selat tersebut dibuka kembali.
Iran dan AS saat ini tidak sedang melakukan perundingan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada Minggu bahwa Teheran tidak akan memulai pembicaraan selama Washington masih melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.