MARKET NEWS

Harga Minyak Melonjak usai Militer AS Luncurkan Serangan Baru ke Iran

TIM RISET IDX CHANNEL 09/07/2026 06:50 WIB

Harga minyak melonjak lebih dari USD1 per barel dalam perdagangan setelah penutupan pasar pada Rabu (8/7/2026).

Harga Minyak Melonjak usai Militer AS Luncurkan Serangan Baru ke Iran. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak melonjak lebih dari USD1 per barel dalam perdagangan setelah penutupan pasar pada Rabu (8/7/2026), menyusul dimulainya gelombang serangan baru militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Sebelumnya, kedua acuan harga minyak ditutup di level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada Rabu malam.

Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir, meski menegaskan tidak menginginkan perang berskala penuh.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan di USD79,28 per barel, setelah ditutup melonjak lebih dari 5 persen ke USD78,02 per barel pada perdagangan Rabu.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di USD74,76 per barel, naik dari harga penutupan sebelumnya di USD73,52 per barel.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) pada Rabu mengumumkan telah melancarkan serangan baru ke Iran yang bertujuan menjaga agar jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.

Seorang pejabat AS kepada Reuters mengatakan, serangan terbaru terhadap Iran diperkirakan lebih besar dibandingkan operasi yang dilakukan sehari sebelumnya.

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di Bandar Abbas, Abu Musa, Bushehr, serta beberapa wilayah lainnya.

Serangan terbaru tersebut menyusul meningkatnya ketegangan setelah Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Sebagai respons, AS mencabut pelonggaran sanksi terhadap penjualan minyak Iran yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian sementara kedua negara pada bulan lalu.

Iran pada Rabu juga menyatakan telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, yang kemudian dibalas dengan serangan balasan oleh AS.

Sebelum perang pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Kendali Teheran atas jalur pelayaran strategis tersebut menjadi salah satu alat tawar utama dalam konflik yang bermula dari serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Otoritas maritim juga menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi kategori ‘parah’ setelah dua kapal tanker diserang pada Selasa. (Aldo Fernando)

SHARE