MARKET NEWS

Harga Minyak Naik 3 Persen, Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan

TIM RISET IDX CHANNEL 25/09/2026 06:42 WIB

Harga minyak mentah naik sekitar 3 persen pada perdagangan Kamis (24/9/2026), mencapai level tertinggi dalam sepekan.

Harga Minyak Naik 3 Persen, Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah naik sekitar 3 persen pada perdagangan Kamis (24/9/2026), mencapai level tertinggi dalam sepekan setelah serangan rudal kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

Namun, perdagangan berlangsung volatil. Harga minyak memangkas sebagian kenaikannya setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kontrak berjangka (futures) Brent melonjak 3,4 persen menjadi USD106,60 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 2,7 persen menjadi USD94,61 per barel.

Pada level tertingginya sepanjang sesi, kedua kontrak tersebut sempat melonjak sekitar 5 persen.

Kenaikan tersebut membawa harga Brent mencatatkan penutupan tertinggi sejak 15 September.

Sementara bagi WTI, kenaikan ini menjadi yang pertama setelah sebelumnya tertekan selama enam sesi berturut-turut dengan penurunan mencapai 13 persen.

Sentimen pasar kembali dipengaruhi perkembangan di Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Serangan tersebut menyasar wilayah Provinsi Taif dan kawasan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Di sisi lain, maskapai penerbangan Iran dilarang beroperasi di sejumlah negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, sebagai respons terhadap sanksi baru AS.

Kebijakan tersebut menjadi dampak besar pertama dari perubahan strategi AS yang mulai menargetkan perusahaan di negara ketiga yang berbisnis dengan Iran melalui penerapan sanksi sekunder.

Di tengah kebuntuan perang AS-Israel melawan Iran selama berbulan-bulan, Washington memperpanjang sanksi keuangan dengan menargetkan perusahaan dari negara ketiga yang melakukan bisnis dengan perusahaan Iran.

Iran pada Rabu (23/9) mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara tetangga yang mematuhi larangan penerbangan dari AS. Teheran bahkan memperingatkan bahwa bandara negara-negara tersebut dapat dibuat "tidak dapat digunakan".

Sementara itu, Arab Saudi meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui East-West Pipeline menuju pusat ekspor di Yanbu, Laut Merah.

Namun, pengapalan minyak mentah melalui kapal tanker masih belum kembali berjalan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pelayaran.

Di tengah perkembangan tersebut, negosiator AS dan Iran di New York tengah mengeksplorasi jalan keluar perang secara bertahap.

Pembahasan tersebut mencakup kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan AS mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.

Selat Hormuz menjadi salah satu alat tawar utama dalam upaya mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.

Iran menginginkan pelonggaran blokade AS yang menekan perekonomiannya, sementara Washington menginginkan jalur pelayaran kembali terbuka di salah satu rute utama perdagangan minyak dunia tersebut.

Namun, kedua pihak masih berusaha mempertahankan posisi tawarnya masing-masing, menurut dua sumber Iran, dua pejabat regional, dan dua sumber diplomatik Barat kepada Reuters. (Aldo Fernando)

SHARE