MARKET NEWS

Harga Minyak Naik 5 Persen Sepekan di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

TIM RISET IDX CHANNEL 11/07/2026 11:15 WIB

Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (10/7/2026), tetapi tetap membukukan kenaikan tajam sepanjang pekan.

Harga Minyak Naik 5 Persen Sepekan di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (10/7/2026), tetapi tetap membukukan kenaikan tajam sepanjang pekan di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berlangsung.

Minyak Brent ditutup turun 0,38 persen ke level USD76,01 per barel pada Jumat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,93 persen menjadi USD71,41 per barel.

Secara mingguan, harga Brent menguat sekitar 5,5 persen, sedangkan WTI naik hampir 4 persen.

Partner Again Capital John Kilduff mengatakan pasar mulai merespons positif tidak adanya eskalasi konflik yang lebih besar.

"Pasar saat ini siap menyambut kabar baik, atau setidaknya tidak adanya kabar buruk. Sejauh ini tampaknya eskalasi konflik tidak akan menjadi lebih buruk," kata Mitra Again Capital John Kilduff, dikutip Reuters.

Berakhirnya aksi saling serang melalui udara antara AS dan Iran serta rencana dimulainya kembali perundingan kedua negara pekan depan meningkatkan harapan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka.

Senior Analyst Price Futures Group Phil Flynn menilai penurunan harga minyak terjadi karena pasar yakin jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan ditutup dalam waktu lama.

"Yang mengejutkan, harga minyak justru turun setelah sempat melonjak mendekati USD76 per barel, meskipun Selat Hormuz kembali praktis ditutup. Hal ini terutama didorong keyakinan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat tidak akan membiarkan Selat Hormuz ditutup untuk waktu yang lama," ujar Flynn.

Pada Kamis, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.

Harga minyak kemudian memangkas penguatan setelah Reuters melaporkan bahwa negosiator Qatar berada di Iran untuk bertemu pejabat setempat guna meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi kelanjutan perundingan yang lebih luas.

Di saat yang sama, media Iran melaporkan terjadi sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

International Energy Agency (IEA) menyatakan eskalasi terbaru antara AS dan Iran berpotensi menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak global yang signifikan pada tahun depan.

Perkembangan tersebut juga menunda pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang pecah pada 28 Februari dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan tidak adanya serangan baru AS terhadap Iran dalam semalam menjadi faktor yang menekan harga minyak.

Namun, terbatasnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz masih menahan penurunan harga lebih lanjut.

Data pelacakan kapal menunjukkan kapal pengangkut gas alam cair (LNG) masih melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, meski lalu lintas harian secara keseluruhan melambat.

Presiden AS Donald Trump pekan ini mengatakan dirinya tidak memperkirakan perang kembali pecah dan meyakini jika terjadi sesuatu, konflik tersebut akan segera berakhir.

Sementara itu, Commodity Strategist ANZ Daniel Hynes mengatakan pasar mendapat sedikit ketenangan setelah pemerintahan Trump memutuskan tidak menargetkan infrastruktur energi Iran meski meningkatkan serangan terhadap fasilitas militer.

"Meski AS meningkatkan serangan terhadap fasilitas militer di Iran, pasar memperoleh sedikit ketenangan dari keputusan pemerintahan Trump yang tidak menargetkan infrastruktur energi Iran," kata Hynes. (Aldo Fernando)

SHARE