MARKET NEWS

Harga Minyak Naik 5,6 Persen Usai Iran Serang Fasilitas Energi di Seluruh Timur Tengah

Nur Ichsan Yuniarto 19/03/2026 05:40 WIB

Angka ini akan terus merangkak naik dalam perdagangan menyusul serangan Iran terhadap sejumlah fasilitas energi di seluruh Timur Tengah.

Harga Minyak Naik 5,6 Persen Usai Iran Serang Fasilitas Energi di Seluruh Timur Tengah

IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup naik 5,6 persen pada Rabu (18/3/2026). Angka ini akan terus merangkak naik dalam perdagangan menyusul serangan Iran terhadap sejumlah fasilitas energi di seluruh Timur Tengah.

Serangan ini sebagai balasan atas serangan terhadap ladang gas South Pars miliknya dalam konfliknya dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dilansir dari Reuters, Kamis (19/3/2026), kontrak berjangka Brent naik 5,6 persen dalam perdagangan pasca-penutupan, memperpanjang kenaikan setelah ditutup naik 3,8 persen di USD107,38. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS memperpanjang kenaikan menjadi 4 persen setelah ditutup naik 11 sen, atau 0,1 persen, di USD96,32.

Kontrak berjangka WTI ditutup dengan selisih harga terendah terhadap Brent dalam 11 tahun terakhir, karena patokan harga AS tersebut tertekan oleh peningkatan pasokan akibat pelepasan cadangan dari Cadangan Minyak Strategis AS serta kenaikan biaya pengiriman.

Sementara itu, kontrak berjangka Brent mendapat dorongan dari serangan-serangan baru terhadap fasilitas energi di Timur Tengah.

Perusahaan minyak dan gas milik Qatar mengatakan bahwa Ras Laffan Industrial City, sebuah pusat industri energi, mengalami kerusakan parah setelah terkena serangan rudal Iran.

Arab Saudi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan beberapa rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh serta menggagalkan upaya serangan drone terhadap fasilitas gas di bagian timur negara tersebut.

Iran telah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk beberapa fasilitas energi di seluruh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

"Fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi sasaran serangan dalam beberapa jam ke depan," demikian dilaporkan media pemerintah Iran pada Rabu waktu setempat (18/3/2026).

Peringatan tersebut muncul setelah serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran, yang menurut media Israel dilakukan oleh Israel dengan persetujuan AS. Kedua negara tersebut tidak segera mengakui tanggung jawabnya.

“Serangan terhadap ladang South Pars di Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dan gas, dan setiap eskalasi serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi akan terus menaikkan harga,” kata analis SEB, Ole Hvalbye.

Perang ini telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menangani 20 persen pasokan minyak dan LNG global.

Total pemotongan produksi minyak di Timur Tengah diperkirakan mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari atau 7 persen hingga 10 persen dari permintaan global.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan selama 60 hari terhadap Undang-Undang Jones Act, yang secara sementara mengizinkan kapal berbendera asing untuk mengangkut bahan bakar, pupuk, dan barang-barang lainnya antar pelabuhan di AS.

Langkah tersebut juga akan mencabut sementara pembatasan federal terkait pengurangan polusi udara pada bensin campuran musim panas, demikian disampaikan tiga sumber kepada Reuters, meskipun langkah-langkah tersebut hanya berdampak kecil terhadap kontrak berjangka bensin.

Para pedagang dan analis mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut dapat membantu memperlambat lonjakan harga bahan bakar di AS, namun kemungkinan besar tidak akan banyak berpengaruh terhadap harga energi global.

Meskipun ada pengumuman tersebut, harga kontrak berjangka solar AS melonjak hingga mencapai selisih hampir USD85 per barel di atas harga minyak mentah WTI, level tertinggi sejak Oktober 2022.

AS juga menerbitkan izin umum yang mengizinkan transaksi tertentu yang melibatkan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, sementara sebuah laporan menyebutkan bahwa Wakil Presiden JD Vance dan pejabat kunci lainnya dari pemerintahan Trump berencana untuk bertemu pada hari Kamis dengan American Petroleum Institute, kelompok perdagangan minyak terbesar di negara tersebut.

Di Irak, Perusahaan Minyak Utara (North Oil Company) menyatakan bahwa ekspor minyak mentah dari ladang Kirkuk Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki telah dilanjutkan melalui pipa, setelah Baghdad dan Pemerintah Regional Kurdistan sepakat untuk memulai kembali aliran pada Selasa. Ekspor minyak mentah Kirkuk akan dilanjutkan dengan kapasitas awal 250.000 barel per hari (bpd).

Terpisah, perusahaan minyak negara Irak, SOMO, menandatangani kontrak dengan perusahaan pengangkut dan pembeli internasional untuk mengekspor minyak mentah melalui Turki, Yordania, dan Suriah, demikian dilaporkan kantor berita negara Irak pada hari Rabu.

“Keputusan Irak untuk kembali membuka keran pasokan minyak datang pada saat yang tepat, ketika dunia benar-benar membutuhkan pasokan minyak tambahan. Hal ini juga meningkatkan tekanan terhadap Iran, sehingga semakin sulit bagi mereka untuk menggunakan minyak sebagai alat tawar-menawar,” kata Analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn.

Di AS, stok minyak mentah naik sementara stok bensin dan turun pekan lalu. Stok minyak mentah naik 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Maret, dibandingkan dengan perkiraan pasar yang memprediksi kenaikan sebesar 383.000 barel.

(Nur Ichsan Yuniarto)

SHARE