MARKET NEWS

Harga Minyak Naik Lebih dari 2 Persen, Investor Khawatir Gangguan Pasokan

TIM RISET IDX CHANNEL 18/08/2026 06:34 WIB

Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Senin (17/8/2026), didorong kekhawatiran terhadap pasokan global.

Harga Minyak Naik Lebih dari 2 Persen, Investor Khawatir Gangguan Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Senin (17/8/2026), didorong kekhawatiran terhadap pasokan global setelah investor pesimistis terhadap upaya diplomasi untuk mengakhiri perang Iran.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut Iran menyerah dan mengancam akan menyerang Oman.

Harga minyak Brent ditutup meningkat 2,65 persen menjadi USD90,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,55 persen menjadi USD84,50 per barel.

Trump mengatakan AS tidak mencari perpanjangan nota kesepahaman dengan Iran. Ia juga menyebut Iran tidak akan membuat kesepakatan seperti yang menurutnya diperlukan.

“Iran seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Trump kepada reporter Fox News dalam wawancara melalui telepon. Ia juga mengancam akan menyerang Oman jika negara tersebut menghalangi upaya AS.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya, serta melancarkan serangan jika AS gagal sepenuhnya menjalankan kesepakatan perdamaian sementara dalam beberapa pekan.

Meski demikian, harga minyak diperkirakan tidak naik secara signifikan kecuali arus minyak mentah melalui Selat Hormuz pada malam hari terhenti dan/atau Selat Bab el-Mandeb ditutup, menurut Bjarne Schieldrop dari SEB Research.

"Untuk saat ini, harga bergerak di sekitar USD90 karena trader menimbang risiko gangguan dan kelangkaan pasokan yang lebih dalam dengan kemungkinan tercapainya penyelesaian, yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka dan harga minyak turun tajam," kata Schieldrop, dikutip Reuters.

Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Trump memiliki ruang yang cukup untuk menunggu Iran tertekan oleh sanksi ekonomi dan embargo minyak.

"Saya rasa dia memiliki ruang tersebut. Presiden memainkan strategi jangka panjang," ujar Wright.

"Iran tidak dapat mengekspor minyak saat ini. Itu bagian dari upaya kami untuk menekan perekonomian mereka. Namun, dunia tidak membutuhkan minyak Iran," katanya.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan kenaikan harga minyak sejalan dengan meningkatnya ketegangan politik.

"Ketika retorika memanas, harga juga ikut naik," kata Flynn, seraya menambahkan, ketidakpastian terkait kapal yang melintasi Selat Hormuz mulai meningkatkan kekhawatiran di pasar.

Kedua kontrak minyak tersebut telah naik lebih dari 5 persen pada pekan lalu setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company di Selat Hormuz dan kilang Saudi Aramco.

Pada akhir pekan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS.

Sementara itu, Trump meminta masyarakat AS bersiap menghadapi harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman terkait kesepakatan untuk mengelola Selat Hormuz masih berlangsung.

Menurut dia, proses tersebut membutuhkan waktu karena persoalan yang kompleks, keterlibatan banyak pihak dan negara yang berupaya menggagalkan proses tersebut.

"Pengiriman melalui Selat Hormuz masih terbatas dan negosiasi telah menemui jalan buntu. Keduanya membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut," kata Frank Walbaum, analis pasar di platform perdagangan Naga.com.

"Tanpa katalis baru, harga minyak dapat terus berkonsolidasi di sekitar level saat ini," ujarnya.

Data yang dirilis pada Senin menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz melambat selama akhir pekan.

Hanya lima kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Sabtu, sementara tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu, berdasarkan data pelacakan kapal Kpler.

Sebagai perbandingan, sebanyak 31 kapal melintasi selat tersebut pada akhir pekan sebelumnya.

Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. (Aldo Fernando)

SHARE