MARKET NEWS

Harga Minyak Stabil, Isu Iran Mereda dan Greenland Jadi Sorotan

TIM RISET IDX CHANNEL 20/01/2026 07:35 WIB

Harga minyak cenderung stabil pada Senin (19/1/2026) seiring meredanya kerusuhan sipil di Iran, yang menurunkan kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS).

Harga Minyak Stabil, Isu Iran Mereda dan Greenland Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak cenderung stabil pada Senin (19/1/2026) seiring meredanya kerusuhan sipil di Iran, yang menurunkan kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) dan potensi gangguan pasokan dari negara produsen utama tersebut.

Perhatian pelaku pasar pun beralih ke kebuntuan politik terkait Greenland.

Minyak mentah Brent naik tipis 0,02 persen ke level USD64,14 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari ditutup mendatar di USD59,44 per barel, sama dengan penyelesaian hari sebelumnya.

Aktivitas perdagangan relatif sepi karena libur federal di AS.

Aksi penindakan keras pemerintah Iran disebut telah meredam gelombang protes yang, menurut pejabat setempat, menewaskan 5.000 orang.

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump terlihat menarik diri dari ancaman intervensi militer yang sebelumnya sempat dilontarkan.

“Setelah kekhawatiran soal Iran mereda dalam beberapa hari terakhir menyusul rumor serangan AS, pasar kini berfokus pada isu Greenland dan sejauh mana dampak konflik antara AS dan Eropa. Perluasan perang dagang berpotensi memengaruhi permintaan,” kata analis Rystad Energy, Janiv Shah, dikutip dari Reuters.

Trump belakangan meningkatkan tekanannya untuk merebut kedaulatan Greenland dari Denmark, sesama anggota NATO.

Ia mengancam menerapkan tarif hukuman terhadap negara-negara yang menghalangi langkah tersebut, memicu Uni Eropa mempertimbangkan langkah balasan.

Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di Brussels pada Kamis, demikian disampaikan juru bicara Uni Eropa pada Senin.

Meski Greenland tidak memproduksi minyak sehingga tidak memiliki kaitan langsung dengan pasar minyak mentah, pendiri Commodity Context Rory Johnston menilai sengketa tersebut bersifat “risk-off” bagi investor.

Ia merujuk pada aksi jual di pasar saham global yang terjadi pada Senin.

Saham-saham dunia melemah dan dolar AS terkoreksi terhadap yen Jepang serta franc Swiss, di tengah kekhawatiran meningkatnya potensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa.

“Pasar juga mencermati risiko kerusakan infrastruktur Rusia dan pasokan distilat, terutama ketika cuaca dingin diperkirakan melintasi Amerika Utara dan Eropa, yang turut menambah kegelisahan pasar,” kata analis PVM Oil Associates John Evans.

Dalam jangka lebih panjang, pasar minyak mentah diperkirakan masih menghadapi tekanan dari meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke wilayah Teluk AS.

Namun, proyeksi baru Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global lebih kuat pada 2026 berpotensi mengangkat ekspektasi permintaan, ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

“Pasar akan terkunci oleh tarik-menarik antara sentimen bullish dan bearish, sehingga pergerakannya cenderung mendatar,” kata Flynn. (Aldo Fernando)

SHARE