Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen Jelang Perundingan AS-Iran
Harga minyak dunia ditutup melemah hampir 3 persen pada Kamis (5/2), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menggelar perundingan di Oman pada Jumat.
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah hampir 3 persen pada Kamis (5/2/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menggelar perundingan di Oman pada Jumat.
Kesepakatan ini meredakan kekhawatiran pasar terkait pasokan minyak mentah Iran.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup turun 2,75 persen ke level USD67,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 2,84 persen dan berakhir di USD63,29 per barel.
“Masih ada skeptisisme apakah kesepakatan yang masuk akal bisa dicapai dengan Iran. Jadi meskipun pasar saat ini memberi ruang optimisme terhadap perundingan tersebut, hasil akhirnya masih belum jelas,” kata Senior Analyst Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Reuters.
Perundingan ini berlangsung di tengah penguatan kehadiran militer AS di Timur Tengah, sementara para pemain regional berupaya menghindari konfrontasi militer yang dikhawatirkan bisa berkembang menjadi perang yang lebih luas.
“Perbedaan ekspektasi terkait cakupan dan tujuan perundingan menjaga tingkat ketidakpastian tetap tinggi, sekaligus menyuntikkan volatilitas ke harga minyak mentah ketika pelaku pasar menilai ulang risiko eskalasi dibandingkan jalur diplomasi,” tulis analis Aegis Hedging dalam sebuah catatan.
Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis antara Oman dan Iran.
Sejumlah anggota OPEC lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, demikian pula Iran.
Tingginya volatilitas mendorong investor berlomba mengunci harga minyak tahun ini.
Pada Januari, perdagangan kontrak WTI Midland di Houston mencetak rekor, di tengah kekhawatiran terhadap risiko pasokan dari Timur Tengah serta potensi tambahan pasokan minyak Venezuela ke kawasan Pantai Teluk AS.
Menurut para analis, penguatan dolar AS dan volatilitas di pasar logam mulia turut menekan harga komoditas dan sentimen risiko secara lebih luas pada Kamis.
Dari sisi pasokan, diskon ekspor minyak Rusia ke China melebar ke level rekor baru pekan ini.
Para penjual memangkas harga untuk menarik permintaan dari importir minyak terbesar dunia tersebut, sekaligus mengimbangi potensi hilangnya penjualan ke India.
Pada pekan yang sama, Amerika Serikat dan India mengumumkan kesepakatan dagang, di mana India sepakat menghentikan pembelian minyak mentah Rusia.
Sementara itu, surplus perdagangan energi Argentina diperkirakan meningkat pada 2026 dibandingkan rekor tahun lalu, didorong produksi minyak dari formasi shale Vaca Muerta. Tiga analis kepada Reuters memperkirakan surplus tersebut berada di kisaran USD8,5 miliar hingga USD10 miliar. (Aldo Fernando)