Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Sejumlah Bank Sentral
Harga minyak turun pada perdagangan Senin (24/7/2023). Ini seiring pelaku pasar merealisasikan keuntungan setelah menguat pada pekan sebelumnya.
IDXChannel - Harga minyak turun pada perdagangan Senin (24/7/2023). Ini seiring pelaku pasar merealisasikan keuntungan setelah menguat pada pekan sebelumnya.
Minyak berjangka (futures) Brent turun 0,5 persen menjadi USD80,48 per barel, sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WIB) turun 0,5 persen menjadi USD76,67 per barel pada pukul 8.00 WIB.
Kedua kontrak tersebut mencatatkan kenaikan empat minggu berturut-turut, yang dipicu oleh produsen utama yang menandakan pasar minyak yang lebih ketat untuk sisa tahun ini.
Prospek pasokan yang lebih ketat juga sempat membuat harga minyak mendekati level tertinggi dalam hampir tiga bulan. Hal ini karena pengurangan produksi oleh Arab Saudi dan Rusia mulai dirasakan oleh pasar.
Tanda-tanda permintaan minyak mentah AS yang stabil, ditambah dengan harapan pada langkah-langkah stimulus dari China juga mendukung harga minyak selama empat minggu terakhir.
Namun, tren ini juga diimbangi dampak pertemuan The Fed pada dua hari mendatang dimulai pada Selasa besok. Bank sentral secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Selain itu, penguatan dolar, sebelum pertemuan The Federal Reserve (The Fed) minggu ini juga membebani pergerakan harga minyak.
Pertemuan Bank Sentral Jadi Fokus
Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan dua hari yang berakhir pada hari Rabu (26/7/2023).
Tetapi pasar tetap gelisah menanti apakah bank sentral akan mengumumkan berakhirnya siklus kenaikan suku bunga selama hampir 16 bulan.
Pasar tengah mengharapkan kenaikan minggu ini menjadi yang terakhir dari The Fed, dengan suku bunga AS ditetapkan tetap di level 5,5 persen untuk sisa tahun ini.
Indikasi kenaikan lebih lanjut akan berdampak menekan pasar minyak dan semakin membuat pasar khawatir akan kondisi ekonomi akan memburuk tahun ini di tengah suku bunga yang lebih tinggi.
Dolar menguat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga minggu ini, yang juga menekan harga minyak dan harga komoditas lain yang diperdagangkan dengan mata uang tersebut.
Di luar The Fed, fokus minggu ini juga tertuju pada Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan. ECB juga secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis (27/7/2023), meskipun bank Eropa baru-baru ini mengisyaratkan bahwa siklus kenaikan suku bunga sudah dekat.
Kebijakan moneter yang lebih ketat akan menekan aktivitas ekonomi dan pada gilirannya merugikan permintaan minyak. Pengetatan ini sangat menekan harga minyak selama setahun terakhir.
Pasar minyak juga menunggu tindakan lebih lanjut dari China untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebagai negara importir minyak mentah terbesar dunia, data terbaru menunjukkan pemulihan ekonomi China kehabisan tenaga pada kuartal kedua tahun ini.
Pemerintah juga telah berjanji mengeluarkan stimulus untuk mendukung belanja konsumen yang dapat membantu permintaan bahan bakar pulih dari posisi terendah di era pandemi. (ADF)