MARKET NEWS

Harga Minyak Turun, Potensi Pelonggaran Sanksi Iran Redam Kekhawatiran Pasokan

Desi Angriani 20/03/2026 13:58 WIB

Minyak mentah acuan Brent crude oil tercatat turun 1,6 persenke level USD106,94 per barel.

Harga Minyak Turun, Potensi Pelonggaran Sanksi Iran Redam Kekhawatiran Pasokan (Foto: dok AP)

IDXChannel - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat (20/3/2026) seiring potensi pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran yang meredam kekhawatiran akan pasokan.

Melansir Investing, minyak mentah acuan Brent crude oil tercatat turun 1,6 persenke level USD106,94 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 2 persen ke USD93,65 per barel pada awal perdagangan.

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. 

Washington dilaporkan meminta Israel untuk menahan serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran, sehingga memicu ekspektasi de-eskalasi konflik.

Meski demikian, harga minyak masih bertahan di atas level terendah intraday dan bahkan mencatat kenaikan lebih dari 3 persen secara mingguan. Pasar tetap diliputi kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi global.

Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak hingga USD119 per barel pada Kamis sebelum akhirnya terkoreksi. Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang membuka peluang pencabutan sanksi terhadap minyak Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga.

Kebijakan tersebut diperkirakan dapat membebaskan sekitar 140 juta barel minyak tambahan ke pasar global, sebagai upaya meredam lonjakan harga yang dipicu konflik di Iran. 

Sepanjang 2026, harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan.

Selain itu, Amerika Serikat bersama sejumlah negara besar juga mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan harga energi yang terus meningkat.

Di sisi lain, sejumlah bank sentral utama dunia memperingatkan potensi kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.

Laporan juga menyebutkan pejabat Arab Saudi memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga USD180 per barel apabila gangguan pasokan dari Iran berlanjut melewati April. 

Kenaikan ekstrem tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan negara produsen, namun di sisi lain dapat menekan permintaan global dan pertumbuhan ekonomi.

Ketegangan meningkat setelah Israel menyerang ladang gas South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang dimiliki bersama oleh Iran dan Qatar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang menargetkan sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin diperparah dengan terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. 

Penutupan sebagian jalur ini meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.

(DESI ANGRIANI)

SHARE