Harga Tembaga Cetak Rekor, Intip Gerak Saham AMMN dan MDKA
Saham emiten tembaga menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026), seiring harga tembaga dunia yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH).
IDXChannel – Saham emiten tembaga menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026), seiring harga tembaga dunia yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.46 WIB, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melonjak 4,76 persen ke level Rp4.620 per unit. Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 1,04 persen ke level Rp2.910 per unit.
Penguatan saham emiten tembaga terjadi setelah harga tembaga di London Metal Exchange (LME) mencetak rekor baru pada perdagangan Senin (7/9/2026).
Kontrak tembaga berjangka tiga bulan naik 0,9 persen menjadi USD14.510 per ton, setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di USD14.533 per ton. Harga tersebut melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Januari 2026.
Sepanjang tahun ini, harga tembaga telah menguat sekitar 16 persen.
Mengutip The Wall Street Journal, kenaikan harga tembaga didorong ekspektasi permintaan jangka panjang yang kuat, terutama dari investasi jaringan listrik, kecerdasan buatan (AI), pusat data, kendaraan listrik, dan infrastruktur energi lainnya.
Namun, dalam jangka pendek, kekhawatiran terhadap pasokan tambang menjadi katalis yang lebih dominan.
Menurut data awal International Copper Study Group (ICSG) yang dirilis pada Agustus, produksi tambang tembaga global turun 1,1 persen pada semester I-2026. Produksi konsentrat tembaga, yang merupakan bahan baku utama smelter, bahkan turun 2,6 persen.
Penurunan produksi cukup tajam terjadi di sejumlah negara produsen tembaga utama, termasuk Chile, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo (DRC).
Kondisi tersebut terjadi meski produksi meningkat dari sejumlah proyek baru yang mulai beroperasi di negara seperti Peru dan Mongolia.
Di sisi lain, pasar tembaga olahan masih mencatat surplus. Produksi tembaga olahan global meningkat 2,4 persen pada semester I-2026, terutama didorong oleh China dan DRC.
Konsumsi juga meningkat, tetapi kondisi tersebut masih menghasilkan surplus global sekitar 131.000 ton, naik dari 114.000 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, kekhawatiran bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengenakan tarif impor baru terhadap tembaga olahan turut mendorong aliran pasokan tembaga menuju AS.
Pergerakan tersebut memperketat pasokan tembaga di wilayah lain dan turut menopang kenaikan harga tembaga global.
Kenaikan harga komoditas ini menjadi sentimen positif bagi emiten berbasis tembaga seperti AMMN dan MDKA, meski dampaknya terhadap kinerja masing-masing perusahaan tetap bergantung pada volume produksi, biaya produksi, serta perkembangan proyek tambang dan smelter. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.