MARKET NEWS

Hexindo (HEXA) Optimistis Jaga Pangsa Pasar Alat Berat di Level 18 Persen pada 2026

Rahmat Fiansyah 22/09/2026 22:30 WIB

PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis mampu menjaga pangsa pasar (market share) penjualan alat berat di level 18 persen pada akhir 2026.

PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis mampu menjaga pangsa pasar (market share) penjualan alat berat di level 18 persen pada akhir 2026. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) optimistis mampu menjaga pangsa pasar (market share) penjualan alat berat di level 18 persen pada akhir 2026. Upaya tersebut dilakukan di tengah persaingan ketat, terutama akibat kehadiran pemain baru dari China.

Presiden Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk, Dwi Sasono menjelaskan bahwa sektor bisnis yang menjadi tulang punggung utama penjualan merek Hitachi adalah sektor agrobisnis, diikuti sektor konstruksi dan tambang.

"Tahun ini, kami tetap optimistis pangsa pasar kami di angka 18 persen. Memang sedikit menurun dibandingkan tahun 2023 tetapi meningkat dibandingkan 2024 dan 2025 lalu," katanya dalam Risalah Public Expose dikutip Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan data internal, pangsa pasar penjualan alat berat Hexindo pada 2023 mencapai 21 persen sebelum turun menjadi 16,3 persen pada 2024 dan 16,7 persen pada 2025.

Pada 2025, Hexindo menjual alat berat sebanyak 3.164 unit, naik dibandingkan 2024 dan 2023 yang masing-masing 2.597 unit dan 2.614 unit.

Penjualan ke sektor agrobisnis sepanjang 2025 mencapai 1.409 unit, tumbuh 38 persen. Sektor konstruksi mencapai 544 unit (-3 persen), kehutanan 528 unit (-3 persen), dan pertambangan 299 unit (-8 unit).

Dwi menjelaskan, sejauh ini sektor agrobisnis masih menjanjikan. Hal ini terbukti dari peluncuran produk Foton 4x2 beberapa waktu lalu di mana pelanggan dari sektor tersebut menyerap secara signifikan.

"Perseroan juga mengantisipasi kenaikan permintaan pasar di sektor agro sejalan kenaikan harga CPO. Harapannya, perseroan dapat mengambil kesempatan dari kenaikan demand ini," katanya.

Untuk pertambangan, kata dia, sektor tersebut masih terpengaruh oleh penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terkait kuota produksi batu bara. Namun, perseroan mencatat adanya beberapa backlog order akibat tertundanya penerbitan RKAB yang dialami sebagian pelanggan.

"Saat ini, RKAB juga sudah keluar, harapannya aktivitas tambang segera membaik," ujarnya.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE