MARKET NEWS

IHSG Berbalik Hijau saat Bursa Asia Tumbang, Saham Konglo Jadi Penopang

TIM RISET IDX CHANNEL 13/04/2026 10:18 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound usai sempat turun tajam di awal sesi Senin (13/4/2026) pagi, ditopang lonjakan saham-saham big cap konglomerat.

IHSG Berbalik Hijau saat Bursa Asia Tumbang, Saham Konglo Jadi Penopang. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound usai sempat turun tajam di awal sesi Senin (13/4/2026) pagi, ditopang lonjakan saham-saham big cap konglomerat, terutama Grup Barito milik Prajogo Pangestu.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.11 WIB, IHSG menguat 0,23 persen ke level 7.475 usai sempat terkoreksi ke 7.451,36 sesaat pembukaan pasar.

Nilai transaksi mencapai Rp6,10 triliun dan volume perdagangan 14,06 miliar saham.

Sebanyak 317 saham menguat, 322 melemah, dan 320 sisanya stagnan.

Kendati demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan IHSG mulai menghadapi tekanan setelah reli dalam sepekan terakhir, di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Secara teknikal, IHSG yang kini berada di area resistance psikologis 7.500 dinilai rawan mengalami aksi ambil untung (profit taking). Penguatan yang terjadi sebelumnya membuka ruang koreksi jangka pendek, terutama jika sentimen eksternal kembali memburuk.

Dari sisi global, gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih tergolong rapuh. Perundingan yang berlangsung di Islamabad pada 11–12 April berakhir tanpa kesepakatan, dengan isu utama terkait program nuklir Iran.

Selain itu, jalur strategis Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih. Arus kapal yang melintas baru berkisar 3-16 kapal per hari, jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik yang mencapai 130-160 kapal per hari.

Sekitar 230 kapal tanker minyak dilaporkan masih mengantre di kawasan Teluk, mencerminkan gangguan pasokan yang signifikan.

Di pasar komoditas, harga minyak jenis Brent crude sempat melonjak hingga sekitar USD117 per barel, sebelum turun ke kisaran USD100 pasca gencatan senjata.

Namun, harga kembali menguat ke level USD103-USD105 per barel seiring belum dibukanya kembali Selat Hormuz secara penuh.

Di kawasan Asia, indeks utama Jepang, Nikkei 225, turun 1 persen pada Senin pagi, setelah sebelumnya mencatat kenaikan mingguan tertajam dalam lebih dari setahun.

Sementara itu, indeks yang lebih luas, Topix, melemah 0,5 persen menjadi 3.721,78 di tengah pergerakan yang fluktuatif.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI turun 1 persen, berbalik arah dari penguatan sebelumnya.

Pelemahan turut terjadi di kawasan lain.

Indeks Shanghai Composite terkoreksi 0,25 persen, Hang Seng Index turun 1,26 persen, S&P/ASX 200 melemah 0,47 persen, serta Straits Times Index turun 0,35 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE