MARKET NEWS

IHSG Kembali Merah, Rupiah Sentuh Level Rp17.780 per USD

TIM RISET IDX CHANNEL 26/05/2026 10:50 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah, sementara rupiah bertahan di dekat level terendah sepanjang masa.

IHSG Kembali Merah, Rupiah Sentuh Level Rp17.780 per USD. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah, sementara rupiah bertahan di dekat level terendah sepanjang masa di tengah derasnya arus keluar dana asing.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.40 WIB, IHSG terkoreksi 0,59 persen ke 6.169,80, usai sempat rebound dalam dua hari perdagangan terakhir.

Indeks acuan tersebut masih berada di sekitar level terendah sejak April 2025.

Nilai transaksi mencapai Rp6,80 triliun, dengan volume perdagangan 10,82 miliar saham.

Sebanyak 360 saham melemah, 308 menguat, dan 291 sisanya stagnan.

Dalam sepekan, IHSG terdepresiasi 6,43 persen, sedankan dalam sebulan merosot 13,42 persen.

Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) Rp3,49 triliun di pasar reguler dalam sepekan terakhir. Sementara, dalam sebulan, nilai net sell asing di bursa saham domestik mencapai Rp15,08 triliun.

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih mampu bertahan di kisaran support 5.900-6.100 dan berpotensi melanjutkan rebound terbatas ke area resistance 6.250-6.300 pada.

Meski demikian, pergerakan pasar diperkirakan tetap volatil karena investor masih mencermati perkembangan negosiasi Iran-AS, rebalancing MSCI, hingga potensi aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa.

Rupiah

Sementara, menurut BRI Danareksa, tekanan terhadap rupiah masih belum mereda di tengah kombinasi sentimen global yang negatif dan memburuknya defisit transaksi berjalan Indonesia.

BRI Danareksa mencatat, rupiah melemah ke kisaran Rp17.780 per USD pada Selasa dan telah melanjutkan tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.

Tekanan eksternal masih dominan, dipicu kenaikan yield US Treasury, harga minyak yang tetap tinggi, serta arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.

Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat menjadi yang terdalam dalam lebih dari enam tahun terakhir. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Sementara itu, pasar dinilai belum memberikan respons berarti terhadap kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) terbaru yang mewajibkan eksportir sektor sumber daya alam (SDA) menempatkan dana di perbankan domestik selama 12 bulan.

Secara year-to-date (YtD), rupiah telah melemah sekitar 6,1 persen dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE