MARKET NEWS

IHSG Melesat 6 Persen di Tengah Wacana Buyback Saham BUMN dan Kejutan Suku Bunga BI

TIM RISET IDX CHANNEL 09/06/2026 15:35 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound tajam pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah tertekan selama empat sesi beruntun sebelumnya.

IHSG Melesat 6 Persen di Tengah Wacana Buyback Saham BUMN dan Kejutan Suku Bunga BI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound tajam pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah tertekan selama empat sesi beruntun sebelumnya.

Pelaku pasar merespons sejumlah sentimen positif, mulai dari wacana pembelian kembali (buyback) saham-saham BUMN hingga langkah tak terduga Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 15.23 WIB, IHSG melonjak 6,47 persen ke level 5.687,97.

Nilai transaksi mencapai Rp22,12 triliun dengan volume perdagangan 34,95 miliar saham. Sebanyak 660 saham menguat, 126 saham melemah, dan 173 saham bergerak stagnan.

Meski mencatat kenaikan signifikan, IHSG masih terkoreksi 7,21 persen dalam sepekan dan merosot 18,44 persen dalam sebulan terakhir di tengah tekanan sentimen global dan domestik, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad terkait peluang buyback saham-saham BUMN yang dinilai memiliki fundamental kuat namun tertekan akibat gejolak pasar.

BRI Danareksa Sekuritas menilai wacana tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi saham-saham BUMN, terutama sektor perbankan yang sepanjang tahun ini berada di bawah tekanan seiring pelemahan IHSG dan meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026), Dasco mengumpulkan jajaran direksi Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), PT Taspen (Persero), BPJS Kesehatan, hingga Indonesia Investment Authority (INA) untuk membahas kondisi pasar dan saham-saham BUMN.

“Pagi ini kan kita berkumpul untuk koordinasi terutama kita akan berdiskusi banyak soal paket sama saham-saham BUMN yang sebenarnya bagus-bagus, tapi kemudian dengan situasi pasar global yang kemudian berdampak,” kata Dasco.

Menurut Dasco, pelemahan harga saham BUMN saat ini dapat menjadi momentum untuk kembali mengoleksi saham-saham perbankan pelat merah yang memiliki fundamental kuat.

“Kemudian pada saat ini, kita sudah saatnya berdiskusi bagaimana kita kemudian pada kesempatan yang tepat menurut saya. Kita kembali buy back atau membeli kembali saham saham yang sebenarnya di pasar,” ujarnya.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala BP BUMN Donny Oskaria, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto, Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito, serta CEO Indonesia Investment Authority (INA) Oki Ramadhana.

Selain itu, pasar juga mencermati keputusan mengejutkan BI yang menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) di luar jadwal dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.

BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen. Keputusan tersebut diambil sepekan sebelum RDG bulanan yang semula dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Juni 2026.

Langkah darurat itu mempertegas fokus BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah berada di bawah tekanan hebat.

Bank sentral sejatinya baru dijadwalkan menggelar rapat pekan depan, namun pelemahan rupiah yang semakin tajam mendorong BI bertindak lebih cepat.

Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah sekitar 8 persen terhadap dolar AS. Sejak pecahnya konflik Iran-Israel, mata uang Garuda juga turun sekitar 7 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia.

Pada Senin (8/6/2026), rupiah bahkan kembali mencetak rekor terendah di level Rp18.190 per USD.

Setelah keputusan BI diumumkan, rupiah sempat menguat tipis ke kisaran Rp18.075 per USD. Namun, dalam tiga pekan terakhir, pelemahan rupiah tercatat menjadi yang terdalam sejak 2020.

Sebelumnya, BI juga telah mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.

Meski demikian, langkah tersebut belum mampu menghentikan tekanan terhadap rupiah.

Cadangan devisa Indonesia bahkan telah berkurang sekitar USD12 miliar sepanjang tahun ini akibat intervensi yang dilakukan bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar.

Meski kenaikan suku bunga umumnya kurang positif bagi pasar saham, investor tampaknya menyambut baik langkah cepat BI dalam menjaga stabilitas rupiah.

Namun, penguatan IHSG kali ini masih lebih mencerminkan respons terhadap sentimen jangka pendek di tengah masih tertekannya pasar saham domestik sejak awal tahun.

Ke depan, arah pasar tetap akan ditentukan oleh perkembangan nilai tukar rupiah, kondisi likuiditas, kebijakan fiskal domestik, pengumuman MSCI soal status Indonesia di indeks global tersebut hingga dan dinamika geopolitik yang masih penuh ketidakpastian. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE