MARKET NEWS

IHSG Melesat Lebih dari 2 Persen, Tersengat Kabar FTSE hingga Gencatan Senjata AS-Iran

TIM RISET IDX CHANNEL 08/04/2026 09:57 WIB

IHSG melonjak 2 persen Rabu (8/4/2026), terdorong optimisme pasar setelah FTSE Russell menegaskan Indonesia tetap berstatus Emerging Market.

IHSG Melesat Lebih dari 2 Persen, Tersengat Kabar FTSE hingga Gencatan Senjata AS-Iran. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 2 persen Rabu (8/4/2026), terdorong optimisme pasar setelah FTSE Russell menegaskan Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging Market.

Selain itu, pengumuman gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menekan harga minyak, memperkuat sentimen positif di pasar.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.50 WIB, IHSG meningkat 2,40 persen ke level 7.138,16, usai sempat menembus level tertinggi harian di 7.195,19.

Sebanyak 514 saham menguat, 143 saham melemah, dan 301 sisanya stagnan.

Kenaikan indeks acuan tersebut ditopang oleh saham big cap milik konglomerat macam Grup Barito hingga Bakrie serta bank-bank besar.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai kabar ini sangat positif bagi pasar domestik. "Ini merupakan kabar yang baik untuk bursa kita. Selanjutnya adalah yang dinanti investor mengenai keputusan MSCI terhadap klasifikasi kita," ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Michael menambahkan bahwa MSCI sebelumnya memang menyoroti potensi Indonesia masuk ke Frontier Market. Namun, dengan status yang tetap di Emerging Market menurut FTSE, perkiraan arus keluar modal asing dari Indonesia akan lebih terkendali.

Secara teknikal, IHSG disebutnya menyentuh titik krusial di angka 6.850. "Di angka ini akan terjadi beberapa perlawanan. Jika mampu bertahan di area ini, maka IHSG akan reversal dan menyudahi downtrend," tutur Michael.

Namun, Michael mengingatkan potensi risiko jika level tersebut gagal dijaga.

"Masih ada potensi koreksi hingga ke 6.000 jika angka 6.850 ini tertembus ke bawah. Titik kunci untuk mengakhiri downtrend adalah IHSG melewati angka 7.500," imbuh dia.

Kabar dari Footsie

Indonesia masih mempertahankan status Secondary Emerging Market dalam tinjauan interim FTSE Russell April 2026, di tengah percepatan reformasi transparansi pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor global.

Dalam laporan FTSE Equity Country Classification Interim Review yang dirilis 7 April 2026, FTSE, atau secara informal dikenal sebagai ‘Footsie’, menyatakan terus memantau perkembangan reformasi pasar modal Indonesia, terutama setelah penundaan evaluasi indeks pada Maret 2026.

Lembaga indeks global itu menilai Indonesia telah memperkenalkan berbagai inisiatif untuk memperkuat transparansi, integritas, dan tata kelola pasar.

“Indonesia telah memperkenalkan berbagai inisiatif reformasi, termasuk peningkatan keterbukaan kepemilikan saham, perluasan kategori klasifikasi investor, penerapan batas minimum free float, serta penguatan perangkat pengawasan pasar. Langkah-langkah ini ditujukan untuk menjawab kekhawatiran yang sebelumnya muncul terkait transparansi data dan keandalan informasi di pasar modal,” tulis FTSE Russell dalam laporannya.

FTSE Russell juga menegaskan bahwa status Indonesia saat ini tetap Secondary Emerging dan tidak masuk Watch List.

“Pada tahap ini, status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market tetap tidak berubah,” kata FTSE Russell.

Sementara keputusan terkait perlakuan efek Indonesia akan diumumkan menjelang review indeks Juni 2026 setelah mempertimbangkan progres reformasi dan masukan pelaku pasar.

Di dalam negeri, reformasi transparansi pasar modal terus dipercepat oleh otoritas.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menuntaskan empat agenda utama penguatan transparansi yang juga menjadi bagian dari proposal kepada global index providers, termasuk MSCI.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan capaian tersebut dalam Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI pada 2 April 2026.

Hasan menjelaskan bahwa empat agenda tersebut merupakan bagian dari delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal yang dicanangkan OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) sejak 1 Februari 2026.

Empat agenda yang telah dituntaskan meliputi penyediaan data kepemilikan saham di atas 1 persen kepada publik, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), penguatan klasifikasi investor KSEI menjadi 39 kategori, serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen melalui penyesuaian Peraturan BEI Nomor I-A.

Bursa Asia Reli

Di pasar global, optimisme tercermin dari bursa saham Asia yang melesat Rabu (8/4) setelah Presiden Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran, mendorong kenaikan saham sekaligus menekan harga minyak. Optimisme pasar muncul dari harapan konflik segera mereda.

Indeks saham dan obligasi pemerintah menguat pada perdagangan pagi. Sementara harga minyak turun tajam, meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi berbasis komoditas yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi, terutama di kawasan Asia yang bergantung pada energi impor.

Di pasar saham, Nikkei Jepang melonjak 5,04 persen, Kospi Korea Selatan naik 5,97 persen didorong reli saham chip, S&P/ASX 200 Australia bertambah 2,58 persen.

Kemudian, Shanghai Composite 1,76 persen, Hang Seng Hong Kong 2,61 persen, dan STI Singapura 0,59 persen.

Melansir dari Dow Jones Newswires, Trump menyetujui penghentian serangan ke Iran selama dua pekan dengan syarat Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia, dibuka kembali segera. (Aldo Fernando)

SHARE