IHSG Mendadak Turun 2 Persen di Tengah Tekanan Asing, Saham Bank-Konglo Jadi Beban
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada Selasa (27/10/2026), melanjutkan koreksi sehari sebelumnya.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada Selasa (27/10/2026), melanjutkan koreksi sehari sebelumnya, setelah sempat rebound selama empat hari beruntun usai crash akibat pengumuman MSCI yang mengancam menurunkan status Indonesia ke Standalone Market pada 16 Oktober lalu.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 14.32 WIB, IHSG turun 2,13 persen ke level 5.258,91.
Nilai transaksi mencapai Rp9,12 triliun dengan volume perdagangan 22,32 miliar saham.
Sebanyak 599 saham turun, 129 saham naik, dan 235 saham lainnya stagnan.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup turun 1,22 persen, dilanda aksi ambil untung (profit taking) setelah reli pemulihan pekan lalu.
Hingga istirahat sesi I, investor asing membukukan net sell Rp2,25 triliun di pasar reguler, melanjutkan tekanan jual belakangan ini, terutama setelah pengumuman MSCI.
Sejak 16 Oktober, akumulasi net sell asing mencapai Rp13,46 triliun di pasar reguler.
Tekanan terhadap IHSG turut terlihat pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar, terutama dari kelompok konglomerasi dan perbankan.
Sejumlah saham konglomerasi mencatat penurunan lebih dalam dibandingkan indeks, dengan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) anjlok hingga auto rejection bawah (ARB) 6,95 persen, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melemah 6,90 persen dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 6,69 persen.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga terkoreksi 6,08 persen, sedangkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 5,33 persen.
Di kelompok perbankan besar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 3,07 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 2,59 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 2,41 persen.
Tekanan juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo lainnya, seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang turun 3,61 persen, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 3,03 persen, serta PT DCII Indonesia Tbk (DCII) turun 2,76 persen.
Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) relatif lebih terbatas koreksinya, yakni 0,81 persen.
Kendati demikian, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp604,05 triliun, BBCA tetap menjadi salah satu saham berkapitalisasi terbesar di pasar domestik yang pergerakannya patut dicermati.
Dari regional, menurut Mirae Asset Sekuritas, bursa Asia yang bergerak beragam dan terbatas menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). (Aldo Fernando)