IHSG Mendapat Angin Segar, Pasar Masih Menanti Kepastian
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang mulai bangkit setelah mengalami tekanan terburuk dalam 18 tahun terakhir.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang mulai bangkit setelah mengalami tekanan terburuk dalam 18 tahun terakhir.
Namun, kenaikan tersebut dinilai belum menjadi tanda berakhirnya seluruh tekanan, mengingat pasar masih menanti kepastian terkait sejumlah isu struktural dan kebijakan.
IHSG rebound dari posisi 5.317,91 pada intraday 8 Juni 2026 menjadi 6.177,14 pada penutupan 19 Juni 2026 atau melonjak 16,16 persen dalam waktu singkat, setelah sebelumnya tertekan hingga turun 38,2 persen sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD).
Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dan Axel Azriel dalam riset tertanggal 19 Juni 2026 menyebut IHSG telah menilai, penurunan tersebut bahkan melampaui tekanan saat pandemi Covid-19 yang mencapai 37 persen dan menjadi yang terburuk sejak krisis keuangan global 2008 ketika IHSG sempat terkoreksi hingga 55 persen.
Menurut keduanya, tekanan terhadap IHSG tahun ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor negatif.
Pertama, peringatan MSCI pada Januari 2026 terkait potensi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier. Kedua, keputusan lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s yang menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif.
Selain itu, ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak turut menekan pasar.
Harga minyak mentah Brent sempat mencapai USD118 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar USD70 per barel. Kekhawatiran lain muncul dari kebijakan ekspor satu pintu oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) serta skema gross split untuk sektor pertambangan.
Tekanan tersebut membuat valuasi IHSG mengalami penurunan signifikan. Rasio harga terhadap laba (price to earnings/P/E) IHSG turun menjadi 9,8 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/P/B) menjadi 1,6 kali, jauh di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 16,7 kali dan 2,2 kali.
Dari sisi valuasi, IHSG juga tertinggal dibandingkan pasar negara berkembang lainnya. Rasio P/E IHSG berada di bawah India, Malaysia, China, dan Thailand yang masing-masing mencapai 19,6 kali, 14,9 kali, 14,6 kali, dan 16,1 kali.
Asing Cetak Arus Keluar 3 Tahun Beruntun
Tekanan pasar juga tercermin dari aksi investor asing yang terus mencatatkan arus keluar dalam tiga tahun terakhir. Hingga Mei 2026, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp64,6 triliun, lebih besar dibandingkan arus keluar saat pandemi Covid-19 yang mencapai Rp61 triliun.
"Arus keluar asing terbesar terjadi pada sektor perbankan sebesar Rp52 triliun, dengan total outflow sejak 2024 mencapai Rp154 triliun," tulis Jovent dan Axel.
Selain sektor bank, aksi jual asing juga terjadi pada saham batu bara sebesar Rp3,5 triliun dan sektor kebutuhan pokok (staples) sebesar Rp2,9 triliun.
Sementara itu, sektor logam mengalami tekanan besar khususnya pada Mei 2026 dengan arus keluar Rp2,4 triliun akibat kekhawatiran terhadap kebijakan royalti, pajak ekspor, pajak windfall, dan skema gross split.
Kebijakan Lebih Jelas Jadi Pemicu Rebound
Menurut Indo Premier, pemulihan IHSG dalam sepekan terakhir didorong oleh membaiknya persepsi pasar terhadap sejumlah isu kebijakan.
Salah satunya adalah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memastikan tidak ada perubahan skema royalti dan gross split bagi perusahaan tambang dalam waktu dekat.
Selain itu, pasar mulai mendapat kejelasan mengenai rencana DSI yang akan berperan sebagai perantara, bukan pedagang (trader).
Sentimen positif juga datang dari meredanya ketegangan geopolitik setelah kesepakatan damai awal, kendati masih rapuh, antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat harga Brent turun dari puncaknya USD118 per barel menjadi sekitar USD79 per barel.
Dari sisi moneter, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang mencapai total 100 basis poin sepanjang 2026 juga dinilai membantu menjaga stabilitas rupiah.
Analis membandingkan kondisi saat ini dengan periode taper tantrum 2013 ketika rupiah melemah 24 persen akibat defisit transaksi berjalan 4,4 persen, sehingga BI menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin.
Namun, Indo Premier mengingatkan ruang fiskal pemerintah masih terbatas. Target defisit APBN 2026 sebesar 2,7 persen dinilai tidak memberikan ruang untuk melakukan kesalahan dalam menghadapi lonjakan harga energi.
Reformasi Struktural Jadi Kunci
Ke depan, pasar masih menunggu keputusan dari S&P dan MSCI pada akhir Juni yang berpotensi memengaruhi arah IHSG.
Namun, Indo Premier menilai reformasi struktural terhadap sejumlah program pemerintah menjadi faktor penting untuk memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi desa (Kopdes) perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih rasional dan tepat sasaran agar tidak membebani ruang fiskal pemerintah.
Meski demikian, dari sisi fundamental perusahaan, prospek laba emiten dinilai masih solid.
Indo Premier memperkirakan laba emiten IHSG pada 2026 dapat tumbuh 10 persen secara tahunan, sementara konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan sekitar 8 persen. Pada kuartal I-2026 saja, laba emiten tercatat tumbuh 9 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut lebih baik dibandingkan proyeksi pertumbuhan laba pasar saham India yang diperkirakan turun 1 persen, Malaysia naik 3 persen, China naik 8 persen, dan Thailand naik 2 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.