IHSG Pekan Ini Berpotensi Technical Rebound Ditopang Solidnya Indikator Ekonomi
IHSG diperkirakan bergerak dalam tren cautiously optimistic pada perdagangan sepekan ke depan. Peluang terjadinya technical rebound dinilai terbuka lebar.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam tren cautiously optimistic pada perdagangan sepekan ke depan. Peluang terjadinya technical rebound dinilai terbuka lebar selama indeks mampu menahan posisinya di atas level psikologis.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, pergerakan pasar saham domestik akan ditopang oleh solidnya indikator ekonomi dalam negeri serta meredanya sentimen negatif dari ranah global.
"Selama IHSG masih mampu bertahan di level 6.000 atau lebih, maka dari itu peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Untuk perdagangan IHSG pada pekan nanti memang dalam kategori cautiously optimistic," ujar Nafan kepada IDX Channel, Minggu (11/10/2026).
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai mereda memberikan pendorong positif bagi pasar keuangan. Pelandaian harga minyak mentah Brent turut memberikan ruang bagi The Fed untuk menjaga kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
"Kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah sudah mulai mereda. Ini membuat harga minyak Brent melandai, sehingga harga energi ini berpotensi meredakan tekanan inflasi dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif," kata dia.
Dari dalam negeri, kondisi makroekonomi Indonesia menunjukkan fondasi yang tetap terjaga. Nilai tukar rupiah cenderung stabil di bawah Rp17.900 per dolar AS, sementara penjualan eceran Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan 1,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 1,1 persen.
"Data penjualan ritel Indonesia untuk Agustus 2026 tumbuh 1,3 persen year-on-year. Ini memberikan sinyal bahwasannya konsumsi rumah tangga masih terakomodasi dengan baik," kata Nafan.
Selain itu, rencana Danantara untuk menambah porsi investasi hingga USD1 miliar hingga akhir 2026 saat valuasi saham dinilai menarik, turut memberi angin segar dan dorongan psikologis bagi pelaku pasar.
Terkait dengan evaluasi MSCI dan reformasi pasar modal mendatang, Nafan menilai investor akan cenderung lebih selektif dalam mengelola portofolio mereka.
"Implementasi penyesuaian batas harga minimal saham, penyempurnaan mekanisme perdagangan, transparansi kepemilikan, serta upaya peningkatan kualitas tata kelola akan mempengaruhi persepsi investor. Para pelaku pasar berpotensi lebih selektif dan mengurangi eksposur pada saham-saham yang dinilai memiliki risiko likuiditas atau transparansi tinggi," kata dia. (Febrina Ratna Iskana)