MARKET NEWS

IHSG Punya Rekam Jejak Positif di Juni, Tapi Tahun Ini Diuji Agenda MSCI

TIM RISET IDX CHANNEL 02/06/2026 10:22 WIB

Jika melihat pola historis dalam 20 tahun terakhir, Juni sebenarnya termasuk bulan yang relatif bersahabat bagi pasar saham Indonesia.

IHSG Punya Rekam Jejak Positif di Juni, Tapi Tahun Ini Diuji Agenda MSCI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Setelah tertekan sepanjang Mei 2026 dengan penurunan 11,92 persen, pelaku pasar kini menantikan apakah Juni dapat menjadi titik balik bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Jika melihat pola historis dalam 20 tahun terakhir, Juni sebenarnya termasuk bulan yang relatif bersahabat bagi pasar saham Indonesia.

Data musiman (seasonality) menunjukkan IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 20 periode Juni sejak 2006, atau memiliki probabilitas naik sekitar 62 persen.

Rata-rata kinerja IHSG pada Juni dalam periode tersebut juga masih positif, yakni naik 0,29 persen.

Meski tidak setinggi Juli yang memiliki rata-rata kenaikan 3,43 persen, catatan tersebut menunjukkan Juni lebih sering berakhir di zona hijau dibandingkan zona merah.

Dalam satu dekade terakhir, performa Juni juga cukup beragam. IHSG sempat melonjak 3,19 persen pada Juni 2020 dan 4,58 persen pada Juni 2016.

Namun, indeks juga pernah terkoreksi cukup dalam seperti pada Juni 2025 yang turun 3,46 persen dan Juni 2022 yang melemah 3,32 persen.

Artinya, meskipun statistik historis memberikan kecenderungan positif, pola musiman tidak selalu menjadi jaminan arah pasar.

Faktor fundamental dan sentimen global tetap menjadi penentu utama pergerakan indeks.

Tahun ini, Juni juga diwarnai sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi sentimen investor.

Menurut Indo Premier, perhatian pasar akan tertuju pada 18 Juni ketika MSCI merilis Global Market Accessibility Review.

Kajian tersebut mengevaluasi tingkat aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor asing, mulai dari sistem kustodian, mekanisme perdagangan hingga aturan arus modal.

Selanjutnya pada 19 Juni, perubahan indeks FTSE akan efektif berlaku.

Dalam peninjauan kali ini, hanya saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang dikeluarkan dari kategori Large Cap.

Indo Premier menilai dampak penjualan pasif dari perubahan tersebut relatif terbatas dan tidak akan sebesar gejolak yang sempat terjadi saat rebalancing MSCI sebelumnya.

Agenda yang paling ditunggu pasar jatuh pada 23 Juni, ketika MSCI mengumumkan Annual Market Classification Review. Pengumuman ini dinilai sebagai salah satu peristiwa terpenting bagi pasar modal Indonesia pada sisa tahun 2026.

Pasalnya, MSCI akan menyampaikan keputusan apakah Indonesia akan masuk ke dalam proses peninjauan formal terkait potensi penurunan status dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi Frontier Market. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.

Selain agenda indeks global, pelaku pasar juga mencermati implementasi kebijakan baru terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Mulai awal Juni, perusahaan batu bara, kelapa sawit (CPO), dan feronikel diwajibkan mulai menyerahkan dokumen terkait ekspor kepada entitas tersebut.

Meski pengambilalihan aktivitas ekspor secara penuh diperkirakan baru berlangsung bertahap hingga paling lambat 1 Januari mendatang, pasar masih menunggu kejelasan implementasi serta transparansi operasional yang dijanjikan pemerintah.

Selain agenda MSCI, FTSE dan Danantara, pasar juga masih mencermati sejumlah faktor eksternal.

BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.

Menurut mereka, jika nilai tukar rupiah terus melemah, premi risiko (equity risk premium) pasar saham Indonesia berpotensi tetap tinggi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga.

Dari sisi global, perkembangan konflik di Timur Tengah juga akan menjadi perhatian. Harga minyak dunia memang sempat terkoreksi seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, BRI Danareksa mengingatkan bahwa gencatan senjata yang ada masih tergolong rapuh.

Setiap eskalasi baru, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia, dapat kembali memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. (Aldo Fernando)

 

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE