IHSG Reli 9 Hari Beruntun, Pasar Menanti RDG BI hingga Musim Laporan Keuangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), memperpanjang reli menjadi 9 hari beruntun.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), memperpanjang reli menjadi 9 hari beruntun sekaligus mencapai level tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.36 WIB, IHSG naik 0,67 persen ke level 6.273,67. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,80 triliun dengan volume perdagangan 9,20 miliar saham.
Sebanyak 349 saham menguat, 206 saham melemah, dan 410 saham lainnya bergerak stagnan.
Dalam sepekan terakhir, IHSG telah menguat 4,03 persen. Penguatan ini terjadi seiring mulai meredanya tekanan jual investor asing. Tercatat, asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp119,09 miliar di pasar reguler, setelah sebelumnya melakukan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar sejak awal 2026.
Tekanan tersebut dipicu oleh ancaman penurunan status Indonesia ke pasar frontier oleh MSCI, eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian fiskal domestik.
Sejak awal Juli, IHSG hanya mencatat satu kali penurunan harian, melanjutkan pola musiman yang umumnya positif bagi pasar saham Indonesia pada bulan tersebut.
Penguatan indeks terutama ditopang oleh reli saham-saham konglomerasi dan bank-bank berkapitalisasi besar.
BRI Danareksa Sekuritas menilai perhatian pelaku pasar pekan ini akan tertuju pada sejumlah katalis penting, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari domestik, agenda utama adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 21-22 Juli.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni menjadi 5,75 persen.
Di sisi lain, cadangan devisa berada di dekat level terendah dalam dua tahun, sementara rupiah masih tertekan akibat tingginya harga minyak dunia.
Dari eksternal, investor juga menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli atau pekan depan.
Rapat tersebut menjadi sorotan setelah inflasi AS pada Juni melambat, meski kenaikan harga energi sepanjang Juli berpotensi kembali memicu perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selain itu, pasar akan mencermati tenggat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada 31 Juli yang dinilai dapat memengaruhi prospek pasokan nikel nasional.
Investor juga masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan arus pelayaran di Selat Hormuz yang dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta prospek inflasi Indonesia.
Di sisi korporasi, musim laporan keuangan kuartal II-2026 akan menjadi ujian bagi ekspektasi pemulihan kinerja emiten, khususnya sektor nonkomoditas, di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.