MARKET NEWS

IHSG Sempat Turun Tajam 5 Persen, Analis Soroti Potensi Koreksi Lanjutan

TIM RISET IDX CHANNEL 09/03/2026 10:52 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi signifikan pada Senin (9/3/2026) pagi seiring kejatuhan bursa Asia.

IHSG Sempat Turun Tajam 5 Persen, Analis Soroti Potensi Koreksi Lanjutan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi signifikan pada Senin (9/3/2026) pagi seiring kejatuhan bursa Asia setelah lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya hidup dan mendorong kenaikan suku bunga di berbagai negara.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat merosot hingga 5,47 persen pada pukul 09.13 WIB.

Namun pada pukul 10.36 WIB, pelemahan mulai terpangkas menjadi 3,87 persen ke level 7.292,11.

Semua sektor kompak memerah, dengan sektor industri dasar turun paling dalam, yakni 6,39 persen.

Dengan ini, IHSG sudah turun tajam 20,18 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) 9.174,47 pada perdagangan intraday 20 Januari 2026.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan bahwa koreksi pasar yang terjadi saat ini bukan hanya dialami Indonesia, melainkan merupakan fenomena global yang mencerminkan tekanan luas di pasar keuangan.

 “Kita melihat koreksi ini terjadi secara global, bahkan KOSPI negara yang digadang-gadang akan masuk ke developed market (DM) mengalami penghentian perdagangan (trading halt) hingga 2 kali,” kata Michael, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang meluas di berbagai pasar. “Ini artinya stress test terjadi di seluruh indeks negeri, baik DM maupun emerging markets (EM),” imbuh dia.

Dalam situasi seperti ini, Michael menilai investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin dan tidak terfokus pada kedalaman koreksi pasar.

Sebaliknya, investor disarankan mulai memperhatikan kualitas saham yang berpotensi pulih lebih cepat ketika pasar kembali stabil.

“Fokuslah pada saham-saham yang akan pulih duluan ketika market pulih, yaitu berdasar matriks price-to earnings (PE) ratio dan dividen salah satunya,” turu Michael.

Dari sisi teknikal, Michael juga melihat IHSG tengah membentuk pola pelemahan lanjutan.

Ia mengatakan, secara analisis teknikal IHSG telah membentuk lower low dari level 7.480 dan berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 7.250 hingga 7.000, dengan kisaran 6.850 diperkirakan menjadi target akhir dari pola bearish pennant.

Sementara, BRI Danareksa Sekuritas menilai eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan tajam harga energi sekaligus meningkatkan volatilitas pasar global.

Dalam risetnya pada Senin (9/3/2026), BRI Danareksa menyebut, “Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar global. Harga minyak melonjak di atas USD110 per barel, mendekati level krisis energi 2022.”

Menurut mereka, lonjakan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan risiko stagflasi di tingkat global.

Mereka menambahkan, “IMF memperkirakan kenaikan harga energi 10 persen dapat menaikkan inflasi global sekitar 40 basis points (bps) dan menekan pertumbuhan.”

Untuk Indonesia, tekanan terutama datang dari sisi fiskal dan nilai tukar.

Meski kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi meningkatkan penerimaan negara, tetapi belanja subsidi naik lebih besar sehingga memperlebar defisit APBN.

Di sisi kebijakan moneter, risiko juga dinilai meningkat seiring kemungkinan tekanan di pasar keuangan domestik.

Selain itu, sentimen global yang cenderung menghindari risiko juga dinilai dapat menekan pasar saham domestik.

 “Sentimen risk-off memicu outflow asing dan tekanan pada IHSG, seiring penguatan dolar AS dan naiknya yield global,” tulis mereka.

Menurut BRI Danareksa, jika tekanan jual di pasar berlanjut, IHSG berpotensi menguji area 7.100 yang merupakan level Fibonacci extension 1.414 sebagai support terdekat.

Apabila level tersebut ditembus, pelemahan diperkirakan masih dapat berlanjut menuju kisaran 6.900 yang bertepatan dengan Fibonacci extension 1.618.

Secara keseluruhan, mereka menegaskan bahwa intensitas konflik akan sangat menentukan besarnya dampak ekonomi yang muncul.

“Dengan kondisi pasar yang masih risk-off, strategi saat ini lebih mengarah pada stock selection yang selektif dan defensif, terutama pada sektor yang memiliki dukungan dari kenaikan harga komoditas,” demikian kata BRI Danareksa. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE