MARKET NEWS

IHSG Tembus ke Bawah 7.000, Analis Soroti Rupiah dan Area Support

TIM RISET IDX CHANNEL 30/04/2026 10:28 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam ke bawah level psikologis 7.000 pada Kamis (30/4/2026) di tengah tekanan jual yang meningkat.

IHSG Tembus ke Bawah 7.000, Analis Soroti Rupiah dan Area Support. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam ke bawah level psikologis 7.000 pada Kamis (30/4/2026) di tengah tekanan jual yang meningkat, seiring pelemahan nilai tukar rupiah, gejolak harga energi global, serta aksi jual investor asing yang berlanjut di pasar modal Indonesia.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG turun signifikan 1,70 persen ke 6.980,16. Nilai transaksi mencapai Rp6,03 triliun dan volume 15,08 miliar saham.

Sebanyak 540 saham melemah, hanya 144 saham menguat, dan 275 sisanya stagnan.

Dengan ini, IHSG terkoreksi 7,44 persen dalam sepekan terakhir, seiring hanya sekali menghijau dalam 9 hari perdagangan bursa di tengah tekanan di saham big cap bank besar dan konglomerasi.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap IHSG saat ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang saling memperburuk sentimen pasar.

Ia menjelaskan, kondisi nilai tukar dan ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama pelemahan indeks.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level terendah baru. egitu juga dengan blokade Selat Hormuz yang diberlakukan oleh Trump,” ujarnya, yang menurutnya kembali menekan IHSG.

Lebih lanjut, Michael menyoroti kegagalan indeks mempertahankan level psikologis penting. “Sayangnya indeks saat ini tidak mampu mempertahankan area 7.000, sehingga potensinya menuju ke 6.850,” katanya.

Di sisi lain, ia juga menekankan dampak lanjutan dari kondisi tersebut terhadap pasar. “Rentetan kejadian ini membuat likuiditas bursa menurun, dan ini membuat pasar tidak berada dalam pergerakan yang lumrah,” imbuh Michael.

Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih dapat pulih apabila indikator ekonomi mulai membaik.

“Masa-masa sulit ini akan kembali pulih jika indikator-indikator ekonomi kita mulai membaik, mulai dari nilai tukar rupiah, kemudian approval MSCI terhadap reformasi bursa kita,” ujar dia.

Sementara, BRI Danareksa Sekuritas mencatat, pada Kamis (30/4), tekanan terhadap IHSG saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat.

Dari sisi global, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menembus di atas USD107 per barel atau naik sekitar 15 persen secara mingguan mengindikasikan pengetatan pasokan energi dunia.

Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

Sementara dari dalam negeri, rupiah terpantau melemah ke atas level Rp17.350 per USD, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko fiskal serta potensi arus keluar modal asing.

Di pasar saham, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp8,62 triliun dalam sepekan, yang mengindikasikan fase distribusi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE