IHSG Terus Melemah, Rendahnya Kepercayaan Investor Asing atas Kebijakan Pemerintah Jadi Isu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan hingga ke level 5.900, dibarengi dengan pelemahan kurs rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan hingga ke level 5.900, dibarengi dengan pelemahan kurs rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Tekanan yang terjadi di pasar keuangan dinilai imbas dari masalah rendahnya kepercayaan investor asing kepada kebijakan pemerintah.
Praktisi pasar modal & Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menilai, pelemahan IHSG yang terjadi belakangan ini bukan terletak pada fundamental ekonomi atau kebijakan regulator pasar modal, melainkan kepercayaan investor asing terhadap arah kebijakan pemerintah.
Kondisi tersebut membuat investor asing terus menjual saham Indonesia. Saham-saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang selama ini menjadi saham favorit asing terus dijual sehingga membuat nilai pasarnya turun lebih dari 50 persen.
"Asing itu kan memang jualan terus di pasar kita. Sebenarnya (masalah) kita itu bukan masalah fundamental tapi trust issue (isu kepercayaan) gitu ya. Jadi kita pikir asing itu enggak trust dengan (pemerintah) kita, itu masalahnya," katanya kepada IDX Channel, Rabu (3/6/2026).
Hans mencontohkan adanya perbedaan pernyataan antarpejabat terkait sejumlah kebijakan ekonomi yang justru menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku pasar.
"Misalnya ada pejabat yang ngomong 'nanti royalti (tambang) kita naikkan' sementara ada pejabat terkait lain ngomong 'Oh dipending dulu'. Nah ini trust issue seperti ini yang jadi masalah," katanya.
Menurut Hans, fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya cukup kuat di tengah dinamika ekonomi global yang menantang. Angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 bahkan mencapai 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali sesuai sasaran Bank Indonesia (BI). Kondisi fiskal juga membaik setelah defisit pada April 2026 menyempit.
Hans menilai, dengan kondisi ekonomi saat ini, pelemahan IHSG seharusnya bersifat temporer. Dia juga menilai, pelemahan rupiah juga tidak sepenuhnya negatif mengingat Indonesia masih menjadi negara eksportir komoditas yang mendapatkan manfaat dari kenaikan dolar AS.
"Dari sisi valuasi, IHSG pada level saat ini juga sudah cukup murah jika dilihat dari forward price to earnings ratio (P/E), sehingga pelemahannya seharusnya bersifat sementara," kata Hans.
Kendati demikian, kata dia, ekonomi dalam negeri bukannya tanpa risiko. Pelaku pasar saat ini juga tengah menanti keputusan Standard & Poor's (S&P) yang berpotensi menurunkan outlook surat utang Indonesia menjadi negatif, seperti yang dilakukan lembaga pemeringkat lain seperti Moody's. Lembaga tersebut masih menyoroti sejumlah isu terkait APBN mulai dari kebijakan yang sulit diprediksi, risiko pelebaran defisit, hingga tingginya rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara.
Selain itu, investor juga mulai mencermati implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Meski begitu, saat ini kebijakan tersebut masih berada pada tahap administrasi dan dokumentasi sehingga dampaknya terhadap perekonomian belum signifikan.
Dari sisi global, kata dia, situasinya cukup menantang. Perang di Timur Tengah yang berkepanjangan membuat harga minyak mentah dunia tetap berada di level tinggi. Selain itu, bank sentral di sejumlah negara mulai mengetatkan kebijakan moneternya seiring kenaikan ekspektasi inflasi.
"Kondisi ini membuat investor global cenderung memilih negara maju yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan pasar negara berkembang seperti Indonesia," katanya.
(Rahmat Fiansyah)