IHSG Tetap Menghijau di Tengah Keputusan FTSE, Ini Kata Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 99,9 poin atau 1,24 persen ke level 8.131,74 poin pada perdagangan Selasa (10/2/2026).
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 99,9 poin atau 1,24 persen ke level 8.131,74 poin pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Indeks sempat volatil di awal sesi meski akhirnya terus menanjak hingga mencetak hijau tebal hingga akhir sesi II.
Pergerakan IHSG diwarnai keputusan FTSE Russell yang menunda review terhadap saham-saham Indonesia pada periode Maret 2026. Keputusan FTSE dinilai hanya persoalan teknis, bukan cerminan kualitas fundamental pasar modal sehingga tidak terlalu berdampak pada IHSG.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana menjelaskan, keputusan FTSE dilatarbelakangi masih adanya ketidakpastian dalam proses reformasi pasar, khususnya terkait kebijakan free float minimum dan potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi.
"Karena itu, FTSE memilih menahan seluruh perubahan indeks hingga terdapat kepastian regulasi yang lebih solid," ujarnya kepada IDX Channel, Selasa (10/2/2026).
Hendra menjelaskan, dampak dari kebijakan ini adalah struktur indeks FTSE Indonesia menjadi statis dalam jangka pendek. Tidak ada penambahan atau penghapusan saham, tidak ada perubahan bobot akibat free float, serta tidak ada penyesuaian akibat aksi korporasi diskresioner seperti rights issue.
"Bagi investor institusi global, kondisi ini justru memberikan kepastian sementara, karena mengurangi risiko rebalancing mendadak. Inilah yang menjelaskan mengapa pasar tidak bereaksi negatif secara agresif terhadap keputusan FTSE tersebut," tutur Hendra.
Dia menyoroti penguatan IHSG pada perdagangan hari ini menjadi sinyal penting bahwa pasar domestik mulai kembali menemukan ritme positifnya, meskipun di tengah berbagai isu struktural yang masih membayangi.
Hendra menekankan bahwa kenaikan ini tidak bersifat semu, karena didukung oleh penguatan yang merata di seluruh sektor, dengan sektor konsumer primer tampil sebagai pemimpin reli.
Dari sisi eksternal, sentimen global memberikan dorongan yang cukup kuat. Bursa Asia bergerak kompak menguat, dipimpin oleh Jepang setelah kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dipersepsikan pasar sebagai jaminan stabilitas politik dan kesinambungan kebijakan ekonomi.
Selain itu, Hendra menyoroti pelemahan indeks dolar AS mendekati level terendah bulanan yang memberi ruang bagi aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia, untuk kembali dilirik.
"Di dalam negeri, penguatan IHSG juga mencerminkan rotasi sektor yang sehat. Investor terlihat kembali masuk ke saham-saham berbasis konsumsi domestik seperti ASII, ERAA, AMRT, hingga UNTR, yang dinilai memiliki daya tahan kinerja lebih baik di tengah ketidakpastian global," tuturnya.
(Rahmat Fiansyah)