MARKET NEWS

IHSG Turun 1 Persen Pagi Ini, Sederet Saham Big Cap Jadi Beban

TIM RISET IDX CHANNEL 15/10/2026 09:53 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (15/10/2026), seiring tekanan di bursa saham global.

IHSG Turun 1 Persen Pagi Ini, Sederet Saham Big Cap Jadi Beban. (Foto: IDXChannel)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (15/10/2026), seiring tekanan di bursa saham global setelah inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat di atas perkiraan.

Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) turut terkoreksi dan menambah beban indeks.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.44 WIB, IHSG melemah 1,06 persen ke level 5.879,80. Nilai transaksi mencapai Rp2,56 triliun dengan volume perdagangan 8,35 miliar saham.

Sebanyak 511 saham turun, 137 saham naik, dan 315 saham stagnan.

Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar tercatat melemah. Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun 1,58 persen ke Rp7.775, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 1,05 persen ke Rp1.415, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 0,89 persen ke Rp2.230.

Tekanan juga terjadi pada saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,82 persen ke Rp6.075 dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 0,32 persen ke Rp3.080.

Nama lainnya, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 2,23 persen ke Rp875, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 2,16 persen ke Rp2.270, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 1,62 persen ke Rp4.260, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 2,33 persen ke Rp1.465.

Penurunan terdalam dalam daftar tersebut terjadi pada PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), yang melemah 3,33 persen ke Rp11.600. Saham PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) juga turun 2,48 persen ke Rp19.650.

Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan bursa saham Asia setelah data inflasi AS memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,2 persen. Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 7,89 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang merosot 4,64 persen.

Inflasi konsumen AS pada September 2026 tercatat sebesar 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui konsensus pasar sebesar 3,6 persen.

Angka tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), sehingga berpotensi memperkuat dolar AS dan mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

BRI Danareksa Sekuritas menilai perhatian investor pada perdagangan Kamis tertuju pada dampak inflasi AS, pergerakan indeks dolar AS (DXY), dan imbal hasil US Treasury.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi menekan rupiah sekaligus membatasi ruang penguatan IHSG.

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih cenderung bearish selama belum mampu menembus kembali level psikologis 6.000.

Area 5.900-5.850 menjadi zona support penting yang perlu dipertahankan. Jika area tersebut ditembus, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai.

Senada, Mirae Asset Sekuritas mengingatkan bahwa inflasi tinggi, harga minyak yang mahal, dan risiko pengetatan kebijakan The Fed membatasi penguatan rupiah.

Investor disarankan tetap berhati-hati terhadap IHSG dan memprioritaskan saham dengan fundamental kuat dibandingkan mengambil eksposur terlalu besar pada indeks secara keseluruhan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE