MARKET NEWS

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Analis Waspadai Koreksi hingga 6.500-6.000

TIM RISET IDX CHANNEL 30/03/2026 11:18 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (30/3/2026) setelah sempat merosot lebih dari 2 persen.

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Analis Waspadai Koreksi hingga 6.500-6.000. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (30/3/2026) setelah sempat merosot lebih dari 2 persen, terseret pelemahan bursa Asia dan kontrak berjangka (futures) Wall Street di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik Timur Tengah yang memicu risiko stagflasi global.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.10 WIB IHSG turun 0,45 persen ke level 7.064, setelah sempat menyentuh level terendah harian di 6.945,50 atau melemah 2,14 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat pekan lalu.

Dengan pergerakan tersebut, IHSG tercatat sudah melemah selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Founder WH Project William Hartanto mengatakan tren jangka panjang IHSG sejatinya masih terjaga, meski pasar tengah diliputi ketidakpastian menjelang sejumlah agenda penting awal April.

“Secara teknikal IHSG masih uptrend terhitung sejak tahun 2008, dan masih belum terindikasi jelas apakah sudah bottoming atau belum,” kata William, Senin (30/3/2026).

Dia menjelaskan, investor yang menunggu konfirmasi teknikal dapat mencermati area support utama di level 6.500.

“Pelemahan sampai level ini masih dianggap aman dan memungkinkan untuk mendapat saham-saham di area bottom,” imbuh dia.

Namun, William mengingatkan adanya agenda penting pada awal April, pengumuman FTSE hingga MSCI, yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar secara signifikan.

“Tapi, perlu waspada juga dengan agenda-agenda penting seperti tanggal 7 April, kalau IHSG jatuh jadi frontier market maka 6.500 itu bisa dengan mudah ditembus, jadi sarannya wait and see sampai kejelasan tanggal 7 April,” tutur William.

Dalam kondisi pasar yang masih berisiko tinggi, dia menyarankan investor tetap melakukan pembelian saham secara bertahap.

Jika ketidakpastian mereda dan IHSG mampu rebound, William melihat peluang penguatan kembali ke area atas.

“Kalau nanti semuanya aman dan IHSG berhasil rebound, target-target di atas seperti 7.400 dan semua gap yang terbentuk dari Januari itu bisa jadi target penguatan berikutnya,” katanya.

Dia juga menilai sentimen geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, belum memberikan dampak signifikan terhadap IHSG.

“Dari kami seperti itu, karena tidak terlihat efek signifikan dari perang AS-Iran, sentimen perang sendiri efeknya tidak besar,” ujar dia.

Sebagai perbandingan, William mencontohkan konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 2022 tidak menghalangi IHSG mencetak rekor tertinggi.

“Ini cuma respons panik pelaku pasar yang bisa dikatakan sementara saja,” kata William.

Sementara itu, pengamat pasar modal Michael Yeoh melihat tekanan IHSG semakin kuat dari sisi teknikal karena munculnya dua pola bearish secara bersamaan.

Dia menjelaskan, pola pertama berasal dari bearish flag yang hampir mencapai target teknikalnya di area 6.850, namun respons pasar dinilai kurang kuat.

Menurut dia, lemahnya pantulan di area tersebut membuat tekanan turun masih berlanjut dan membuka ruang koreksi lebih dalam.

Michael menambahkan, investor kini perlu mencermati pola yang lebih besar pada timeframe mingguan.

“Sehingga kita bisa mengacu pada weekly IHSG yang terlihat memiliki pola bearish head and shoulders besar yang mengindikasikan IHSG ke arah 6.000.” (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE