MARKET NEWS

IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Volatilitas Pasar Masih Tinggi

TIM RISET IDX CHANNEL 26/06/2026 10:01 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026).

IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Volatilitas Pasar Masih Tinggi. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.48 WIB, IHSG terkoreksi 1,44 persen ke level 5.912,58 setelah sempat menguat pada awal sesi perdagangan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,22 triliun dengan volume perdagangan 5,46 miliar saham. Sebanyak 533 saham melemah, 108 saham menguat, dan 318 saham lainnya bergerak stagnan.

Pergerakan IHSG masih menunjukkan volatilitas tinggi setelah pasar sebelumnya mengalami tekanan signifikan pada periode Senin (22/6) hingga Rabu (24/6).

Menurut Phintraco Sekuritas, IHSG pada perdagangan Kamis (25/6) berhasil menguat 1,96 persen ke level 5.999,04. Penguatan tersebut ditopang sejumlah sentimen positif, salah satunya berlanjutnya koreksi harga minyak mentah Brent yang mendekati level USD70 per barel.

"Penurunan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor positif karena dapat mengurangi tekanan terhadap pelebaran defisit APBN 2026 serta diharapkan mampu meredam laju inflasi lebih lanjut," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (26/6).

Selain itu, pasar merespons positif kabar bahwa pemerintah kembali mempertimbangkan pemangkasan tambahan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp50 triliun. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga ruang fiskal pemerintah.

Namun, volatilitas pasar saham domestik masih cukup tinggi. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menilai investor masih menghadapi ketidakpastian global dan domestik yang membayangi pergerakan IHSG.

Dalam riset yang terbit Jumat (26/6/2026), Novani menyebutkan IHSG hingga 24 Juni 2026 telah terkoreksi sekitar 32 persen secara year to date (YTD) dan turun 4 persen secara month to date (MTD). Kondisi tersebut mencerminkan tingginya tekanan di pasar saham dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan dengan perdagangan di atas level Rp17.900 per USD. Kondisi ini menunjukkan risiko eksternal dan kehati-hatian investor asing terhadap pasar negara berkembang masih belum sepenuhnya mereda.

Menurut Novani, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen investor dan faktor eksternal dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Ketidakpastian arah suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan geopolitik menjadi faktor utama yang meningkatkan volatilitas.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Permintaan domestik yang stabil serta pengelolaan kebijakan ekonomi yang relatif prudent dinilai tetap menjadi penopang prospek pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, Novani menilai strategi investasi yang lebih defensif menjadi semakin relevan bagi investor. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE