IHSG Turun Lebih dari 2 Persen, Saham Konglo dan Bank Besar Kompak Jadi Beban
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 2 persen hingga menembus ke bawah level 7.000 pada Kamis (30/4/2026).
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 2 persen hingga menembus ke bawah level 7.000 pada Kamis (30/4/2026), terseret aksi jual di saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari kelompok konglomerat dan bank besar.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, hingga pukul 11.24 WIB, IHSG turun signifikan 2,31 persen ke level 6.937.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,51 triliun dengan volume 20,91 miliar saham.
Sebanyak 632 saham melemah, hanya 110 saham menguat, dan 216 sisanya stagnan.
Dalam sepekan terakhir, IHSG telah terkoreksi 8,04 persen, dengan hanya sekali mencatatkan penguatan dalam sembilan hari perdagangan.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinarmas memimpin pelemahan dengan turun 8,72 persen ke Rp1.570 per unit.
Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, tekanan terjadi secara merata, di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 4,23 persen ke Rp4.530, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 4,62 persen ke Rp1.860, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 4,25 persen ke Rp5.075.
Selain itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 4,62 persen ke Rp1.240 dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melemah 3,18 persen ke Rp1.065.
Dari kelompok lain, emiten yang terafiliasi Grup Salim PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 2,88 persen ke Rp5.050 dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) melemah 2,60 persen ke Rp8.425.
Sementara itu, emiten Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga terkoreksi 3,05 persen ke Rp795.
Di sektor perbankan, saham-saham kenamaan turut memberikan tekanan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,51 persen ke Rp5.825, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,28 persen ke Rp3.000, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tergerus 1,05 persen, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) minus 0,68 persen.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap IHSG saat ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang saling memperburuk sentimen pasar.
Ia menjelaskan, kondisi nilai tukar dan ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama pelemahan indeks.
“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level terendah baru. Begitu juga dengan blokade Selat Hormuz yang diberlakukan oleh Trump,” ujarnya.
Lebih lanjut, Michael menyoroti kegagalan indeks mempertahankan level psikologis penting. “Sayangnya indeks saat ini tidak mampu mempertahankan area 7.000, sehingga potensinya menuju ke 6.850,” katanya.
Di sisi lain, ia juga menekankan dampak lanjutan dari kondisi tersebut terhadap pasar.
“Rentetan kejadian ini membuat likuiditas bursa menurun, dan ini membuat pasar tidak berada dalam pergerakan yang lumrah,” imbuh Michael.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih dapat pulih apabila indikator ekonomi mulai membaik.
“Masa-masa sulit ini akan kembali pulih jika indikator-indikator ekonomi kita mulai membaik, mulai dari nilai tukar rupiah, kemudian approval MSCI terhadap reformasi bursa kita,” ujar dia.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas mencatat tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat.
Dari sisi global, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menembus di atas USD107 per barel atau naik sekitar 15 persen secara mingguan mengindikasikan pengetatan pasokan energi dunia, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Dari dalam negeri, rupiah terpantau melemah ke atas level Rp17.350 per USD, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko fiskal serta potensi arus keluar modal asing.
Di pasar saham dalam negeri, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp8,62 triliun dalam sepekan, yang mengindikasikan fase distribusi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.