Investor Kawakan Surono Subekti Disorot Lagi, Lo Kheng Hong Ungkap Karakter Investasinya
Surono Subekti, sosok lama di pasar saham Indonesia yang dikenal relatif tertutup tetapi memiliki portofolio saham cukup besar.
IDXChannel – Kebijakan otoritas pasar modal yang membuka data kepemilikan saham di atas 1 persen membuat publik mulai melihat sejumlah investor besar yang selama ini jarang muncul di ruang publik.
Salah satunya adalah Surono Subekti, sosok lama di pasar saham Indonesia yang dikenal relatif tertutup tetapi memiliki portofolio saham cukup besar.
Dalam kesempatan wawancara, investor senior Lo Kheng Hong (LKH) turut memberikan gambaran mengenai sosok Surono yang selama ini jarang tampil di ruang publik.
Menurut Lo Kheng Hong, Surono merupakan tipe investor yang tidak banyak berbicara, tetapi memiliki kepemilikan saham yang besar.
“Pak Surono adalah investor saham yang sedikit bicara, tetapi memiliki portofolio saham yang banyak. Sebaliknya, banyak sekali orang yang banyak bicara saham, tetapi portofolionya hanya sedikit sekali,” ujar Pak Lo, sapaan akrabnya, kepada IDXChannel.com, Kamis (12/3/2026).
Ia juga mengungkap bahwa Surono memiliki latar belakang akademik sebagai mantan dosen akuntansi di Universitas Tarumanagara (UNTAR).
Ketika ditanya apakah Surono menjadi salah satu inspiratornya dalam berinvestasi, Lo Kheng Hong menegaskan bahwa panutannya hanya satu tokoh investor dunia, yakni Warren Buffett.
“Inspirator saya hanya satu, Warren Buffett,” katanya.
Soal pendekatan investasi, LKH menjelaskan, portofolio Surono sebagian besar memang mengikuti prinsip value investing, meski tidak seluruhnya.
“Semua saham saya value, sedangkan beliau mayoritas value, tetapi tidak semuanya,” tutur pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia tersebut.
Sebagai informasi, value investing adalah strategi investasi dengan membeli saham yang dinilai lebih murah dari nilai wajarnya (undervalued) berdasarkan fundamental perusahaan.
Pendekatan ini biasanya menargetkan investasi jangka panjang, menunggu hingga harga saham mencerminkan nilai sebenarnya.
Deretan Portofolio Surono
Surono sendiri dikenal sebagai investor yang terbilang low-profile.
Selain aktif berinvestasi, ia juga pernah menulis buku strategi investasi saham berjudul Kiat Bermain Saham yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 1999.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026 yang dipublikasikan pada 3 Maret 2026, portofolio Surono tersebar di berbagai sektor, mulai dari farmasi, teknologi distribusi, asuransi, hingga manufaktur.
Total nilai kepemilikan saham Surono Subekti yang tercatat dengan porsi di atas 1 persen mencapai sekitar Rp1,21 triliun, berdasarkan harga saham per perdagangan 12 Maret 2026.
Di sektor konsumer kesehatan, Surono tercatat memiliki 678.519.900 saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) atau sekitar 2,26 persen.
Ia juga memegang 118.002.200 saham PT Cahaya Aero Services Tbk (CASS) atau 5,65 persen, serta 373.623.200 saham PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) atau sekitar 3,04 persen.
Selain itu, Surono tercatat memiliki 292.720.000 saham PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) atau 1,22 persen, serta 6.106.500 saham PT Akasha Wira International Tbk (ADES) atau 1,04 persen.
Kepemilikan lainnya tercatat pada 85.361.900 saham PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) atau 12,55 persen, 135.595.800 saham PT Ekadharma International Tbk (EKAD) atau 3,88 persen, serta 32.300.000 saham PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR) atau 3,48 persen.
Surono juga memegang saham PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) sebesar 2,56 persen, PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) sebesar 2,04 persen, serta PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) sebesar 2,27 persen.
Portofolio lainnya mencakup PT Asuransi Dayin Mitra Tbk (ASDM) sebesar 2,92 persen, PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) sebesar 2,14 persen, PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) sebesar 1,74 persen, serta PT Intanwijaya Internasional Tbk (INCI) sebesar 1,74 persen.
Selain itu, Surono juga tercatat memiliki saham PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) sebesar 1,18 persen dan PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) sebesar 1 persen.
Profil Surono
Secara latar belakang, mengutip laman website Gramedia Pustaka Utama, Surono merupakan sarjana akuntansi dari Universitas Airlangga.
Karier profesionalnya dimulai di dunia korporasi, antara lain di PT Bentoel sebagai auditor pemasaran dan system analyst, sebelum kemudian bergabung dengan PT Unilever Indonesia Tbk sebagai management trainee.
Di perusahaan tersebut ia pernah menjabat sebagai assistant factory accountant hingga management accountant sebelum akhirnya beralih ke dunia konsultansi manajemen pada awal 1980-an. Sejak 1982, ia juga tercatat menjadi komisaris di sejumlah perusahaan.
Selain berkarier di sektor korporasi, Surono juga aktif di dunia akademik. Ia pernah mengajar di Akademi Wiraswasta Dewantara pada 1982-1989 untuk mata kuliah Manajemen Keuangan dan Salesmanship, sekaligus membimbing skripsi terkait studi kelayakan usaha.
Ia juga mengajar Dasar Akuntansi di AMIK Bina Nusantara (kini Universitas Bina Nusantara/Binus) pada periode 1986-1989.
Meski memiliki rekam jejak profesional yang panjang serta portofolio saham yang tersebar di berbagai sektor, jejak terbaru Surono Subekti di ruang publik relatif terbatas.
Informasi mengenai dirinya lebih banyak muncul secara sporadis di forum-forum diskusi investor, menjadikannya salah satu figur “investor senyap” di pasar saham Indonesia. (Aldo Fernando)