Investor Mesti Waspada, Ini Faktor Eksternal yang Pengaruhi Pasar Saham RI
Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang Semester I-2023 membuat investor harus rela menarik napas panjang.
IDXChannel - Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang Semester I-2023 membuat investor harus rela menarik napas panjang. Pergerakan indeks bergerak sangat violatil, bahkan sempat berada di titik terendahnya di level 6.565,72 pada 16 Maret 2023.
Tekanan dari eksternal memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi gerak IHSG sepanjang paruh pertama tahun ini. Termasuk di antaranya inflasi tinggi yang di sejumlah negara, hingga keputusan The Federal Reserve (the Fed) yang menaikkan suku bunga di Amerika Serikat (AS).
Kebalikan dengan the Fed yang masih menaikkan suku bunga, Bank Indonesia (BI) justru mempertahankan Suku Bunga atau BI 7-day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR) di angka 5,75 persen, setelah sempat dinaikkan 25 basis point pada pertengahan Januari 2023 laku.
Sayangnya, hal tersebut tidak mampu membuat IHSG bertahan di atas level yang diharapkan banyak investor. Bahkan, berkali-kali indeks terlempar keluar dari level psikologis 6.800, walau masih sempat berada di angka 6.945,47 pada 27 April lalu.
Memasuki Semester II-2023 ini, gerakan IHSG mulai stabil di atas level psikologis 6.800 sejak 12 Juli 2023. Banyak analis yang bahkan berani memprediksi indeks akan berakhir di atas level 7.000 pada akhir tahun 2023 nanti.
Meski demikian, investor masih perlu mewaspadai beberapa faktor yang dapat memengaruhi kinerja IHSG di sisa Semester II-2023 ini, kira-kira apa saja itu?
1. Ancaman The Fed Naikkan Suku Bunga
Meski inflasi AS sudah mulai melandai, namun angka yang dirilis belum memuaskan para pejabat the Fed. Bahkan, dalam sebuah pertemuan, Kepala the Fed Jerome Powell masih mengungkapkan tugas lembaganya untuk menurunkan inflasi dengan menaikkan suku bunga.
Hal ini sempat terjadi pada awal tahun, atau permulaan paruh pertama 2023, di mana the Fed masih rajin menaikkan suku bunganya. Saat ini, Suku Bunga The Fed berada di angka 5,50 persen yang diputuskan pada Juli lalu.
Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Powell memang cukup membuat jantung investor bergedup kencang. Tidak jarang pengaruh ini berdampak langsung terhadap pasar, terutama sektor perbankan dan keuangan.
Pengumuman ini sebelumnya telah memberikan dampak terhadap kinerja emas dunia. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, jatuh 7,20 dolar AS atau 0,37 persen menjadi 1.939,90 dolar AS per ounce
Padahal, emas dunia sempat menyentuh tertinggi sesi di 1.950,40 dolar AS dan terendah di 1.931,00 dolar AS.
2. Evergrande Bangkrut dan Melemahnya Ekonomi China
Raksasa properti asal China Evergrande resmi mengumumkan kebangkrutan usai mengalami gagal bayar setara Rp4.400 triliun. Kondisi ini langsung memukul sejumlah kinerja indeks di negara-negara kawasan Asia, bahkan AS.
Meski tak separah negara-negara lain, namun pukulan itu juga terasa bagi IHSG di mana indeks sempat mengalami penurunan cukup tipis, yakni 0,59% atau 40,63 poin pada penutupan perdagangan Jumat (18/8/2023) lalu.
Khusus di kawasan Asia, indeks Strait Times tercatat melemah 0,76%, Shanghai Composite turun 1%, Hang Seng ambles 2,05%, dan Nikkei 225 terkoreksi 0,55% pada Jumat (18/8) pukul 16.09 WIB.
Sedangkan pelemahan ekonomi China juga cukup menjadi pemberat bagi IHSG, di mana kondisi tersebut kerap kali membuat indeks terlempar dari level psikologis 6.900 pada beberapa pekan terakhir.
Itulah dua hal yang patut diwaspadai investor dalam menghadapi sisa Semester II-2023 ini.
(TYO)