IPO Sepi pada Kuartal I-2026, Airlangga Ingin Pasar Modal Jadi Mesin Investasi
Sepinya penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sepanjang kuartal I-2026 menjadi sorotan pemerintah.
IDXChannel - Sepinya penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sepanjang kuartal I-2026 menjadi sorotan pemerintah. Ketidakpastian global, terutama akibat geopolitik berdampak pada penundaan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut, ketidakpastian global yang belakangan terjadi berdampak pada minat calon emiten mencari pendanaan di pasar modal. Kendati demikian, dia berharap pasar modal bisa menjadi tempat alternatif bagi perusahaan untuk mencari pendanaan dalam rangka melakukan ekspansi usaha.
"Kami berharap pasar modal bisa menjadi alternatif pencarian dana dalam bentuk IPO, yang hari ini kita melihat dengan ketidakpastian global, ini juga cukup teredam kegiatan IPO ini," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Airlangga mengatakan, di tengah ketidakpastian global, pasar dalam negeri menjadi satu-satunya bantalan bagi perekonomian nasional. Dia juga mengharapkan investor domestik mampu menopang gejolak indeks saat dana asing keluar dari dalam negeri.
"Tentu kemampuan domestic market ini menjadi shock absorber yang baik. Kami berharap dengan reform pasar modal membuka integritas dan mendorong agar pasar modal itu betul-betul menjadi mesin investasi yang skalanya besar," katanya.
Sekedar informasi tambahan, pada kuartal I-2026 tidak ada perusahaan yang melakukan IPO. Adapun emiten pertama yang listing di BEI yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode emiten WBSA pada 10 April 2026.S
Sementara itu, BEI mengungkapkan saat ini ada 15 perusahaan yang masuk dalam antrean untuk IPO. Di antara jumlah tersebut, sebanyak 11 perusahaan memiliki aset diatas Rp250 miliar dan 4 perusahaan masuk kategori skala menengah dengan aset Rp50-250 miliar.
Dari sisi sektoral, empat perusahaan berasal dari sektor kesehatan, tiga perusahaan dari sektor barang konsumen primer, dua perusahaan sektor barang konsumen non primer, dua perusahaan dari sektor infrastruktur, dua perusahaan dari sektor teknologi, satu perusahaan dari sektor energi, dan satu perusahaan dari sektor keuangan.
(Rahmat Fiansyah)