Jababeka (KIJA) Raup Laba Bersih Rp423 Miliar Sepanjang 2025
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu dengan meraup laba bersih sebesar Rp423 miliar.
IDXChannel - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu. Pendapatan dan laba bersih emiten kawasan industri tersebut tumbuh positif.
Jababeka mencatatkan pendapatan sebesar Rp5,15 triliun pada 2025, meningkat 12 persen dibandingkan tahun 2024. Pilar Land Development & Property Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp2,46 triliun pada 2025, lebih rendah dibandingkan Rp2.564,8 miliar pada tahun 2024.
"Kinerja tahun 2025 didukung oleh pertumbuhan penjualan tanah matang yang meningkat dari Rp2,05 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp2,1 triliun pada tahun 2025, mencerminkan permintaan yang tetap solid," kata manajemen Jababeka melalui keterangan resmi, Rabu (4/3/2/206).
Sementara itu, pendapatan dari pilar Infrastruktur yang mencakup listrik, air, pengelolaan limbah, pengelolaan estate, dan pelabuhan) meningkat 34 persen dari Rp1,91 triliun pada 2024 menjadi Rp2,57 triliun pada 2025.
Subsegmen terbesar dalam pilar Infrastruktur mencatatkan peningkatan pendapatan: pembangkit listrik tumbuh 54 persen menjadi Rp1,81 triliun. Lonjakan tersebut terutama karena adanya peningkatan pembelian listrik dari pengguna industri di Cikarang dan Kendal, serta jasa & pemeliharaan (air, limbah, dan estate) tumbuh 5 persen menjadi Rp521,1 miliar sebagai hasil dari kenaikan permintaan di Kendal.
Selanjutnya, subsegmen dry port mengalami penurunan pendapatan sebesar 9 persen akibat berkurangnya volume kontainer yang ditangani. Pendapatan berulang dari pilar Infrastruktur menyumbang 50 persen dari total pendapatan pada 2025, meningkat dibandingkan dengan tahun 2024 (41 persen).
Pilar Leisure & Hospitality mencatatkan pendapatan sebesar Rp124,8 miliar pada tahun 2025 dibandingkan Rp129,1 miliar pada tahun 2024. Segmen golf tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan sebesar Rp82,5 miliar pada tahun 2025 (2024: Rp85,0 miliar), atau sekitar 66% dari total pendapatan pilar ini.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor meningkat 3 persen menjadi Rp2,03 triliun. Margin laba kotor turun menjadi 39 persen (dari 43%
pada tahun 2024), terutama disebabkan oleh meningkatnya kontribusi pendapatan dari segmen Infrastruktur yang secara umum memiliki margin lebih rendah dibandingkan dengan Land Development & Property.
Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp857,1 miliar pada tahun 2025, dibandingkan dengan Rp770 miliar pada tahun 2024. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga naik 16,5 persen menjadi Rp423 miliar.
Faktor utama dari peningkatan ini adalah kinerja keseluruhan Perusahaan yang lebih baik, kenaikan pendapatan bunga, dan penurunan beban lain-lain terutama pada berkurangnya rugi selisih kurs yang dari sebelumnya Rp205,7 miliar menjadi Rp120,9 miliar.
EBITDA Jababeka tercatat sebesar Rp1,74 triliun, meningkat 7 persen dibandingkan dengan2024 yang tercatat sebesar Rp1.616,8 miliar.
Per 31 Desember 2025, saldo kas perseroan mencapai Rp3,6 triliun, termasuk dana pada rekening cadangan bunga sebesar Rp39,4 miliar sesuai persyaratan pinjaman Mandiri. Posisi kas pada akhir tahun 2024 tercatat sebesar Rp2,0 triliun.
Jababeka juga membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) real estat sebesar Rp3,6 triliun pada tahun 2025, melampaui target sebesar Rp3,5 triliun. Pencapaian ini kembali menjadi rekor tertinggi dan mencerminkan pertumbuhan sekitar 13 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp3,2 triliun.
"Hal ini semakin menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global," kata manajemen Jababeka.
Untuk tahun 2026, Jababeka menetapkan target penjualan pemasaran sebesar Rp3,75 triliun pada 2026, terutama didorong oleh permintaan yang tetap tinggi terhadap lahan industri di Kendal dan Cikarang. Dari target tersebut, Rp1,25 triliun diharapkan berasal dari Cikarang dan lainnya, yang terdiri dari Rp800 miliar dari penjualan tanah matang dan produk industri, serta Rp450 miliar dari produk residensial dan komersial. Sisa sebesar Rp2,5 triliun ditargetkan berasal dari Kendal, yang seluruhnya merupakan produk industri.
(Rahmat Fiansyah)