MARKET NEWS

Jangan Asal Ikut Tren, Ini Cara Bedakan Peluang dan FOMO dalam Berinvestasi

Mei Sada 30/09/2026 15:52 WIB

Salah satu tantangan yang banyak dihadapi generasi muda saat mulai mengenal investasi, yakni membedakan peluang dengan sekadar Fear of Missing Out (FOMO).

Jangan Asal Ikut Tren, Ini Cara Bedakan Peluang dan FOMO dalam Berinvestasi. (Foto Arif Julianto/IMG)

IDXChannel - iNews Campus Connect 2026 kembali hadir menyapa mahasiswa Universitas Tarumanagara (Untar). Memasuki hari kedua pada Rabu (30/9/2026), terdapat rangkaian program yang membahas seputar finansial, teknologi, hingga dunia kreator.

Dalam kesempatan ini, mahasiswa diajak lebih cermat menghadapi perkembangan investasi digital. Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam sesi bertema 'Next Gen Playbook: Money, Tech, Creator, Future' yang merupakan bagian dari rangkaian Moneyfestasi, Creatorverse, dan Autotech.

Dalam sesi tersebut, Head of Product Management Community and Partnership MNC Sekuritas Luqman El Hakiem membahas salah satu tantangan yang banyak dihadapi generasi muda saat mulai mengenal investasi, yakni membedakan peluang dengan sekadar Fear of Missing Out (FOMO).

Menurut Luqman, perkembangan teknologi justru bisa dimanfaatkan untuk membantu calon investor mengambil keputusan dengan lebih rasional. Jika sebelumnya seseorang mungkin mengikuti investasi karena rekomendasi teman atau influencer, kini informasi dan data bisa menjadi pertimbangan yang lebih kuat.

“Dengan adanya teknologi informasi berbasis AI, ini membuat orang menjadi lebih rasional. Lebih rasional, lebih objektif, dan juga bisa lebih menilai,” ujar Luqman dalam sesi tersebut.

Dia kemudian mengingatkan prinsip sederhana yang perlu diperhatikan sebelum seseorang mengikuti sebuah tawaran investasi. Luqman menyebut prinsip 2L, yakni legal dan logis.

“Kalau sesuatu yang sudah legal, kita berusaha pakai logika kita,” katanya.

Menurutnya, aspek logis ini penting agar seseorang tidak mudah tergoda oleh iming-iming keuntungan yang terdengar terlalu fantastis.

Dia lantas memberikan contoh sederhana. Ketika ada tawaran investasi saham dengan klaim mampu menghasilkan keuntungan 100 persen dalam satu hari, calon investor perlu menggunakan logika untuk mempertanyakan apakah hal tersebut masuk akal.

Begitu pula dengan aset kripto. Menurut Luqman, potensi kerugian besar juga bisa saja terjadi, tergantung pada jenis aset yang dikelola.

“Jadi untuk mencegah FOMO, yang pertama tadi kita sudah menggunakan teknologi informasi, menggunakan AI. Kunci barrier yang terakhir adalah apakah ini logis secara penalaran kita,” katanya.

Luqman juga menilai FOMO bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa dihilangkan. Namun, kondisi tersebut bisa dikontrol dengan memperkuat literasi sebelum mengambil keputusan.

Dia mencontohkan seseorang yang mendengar informasi bahwa suatu produk menawarkan bunga atau keuntungan tertentu. Karena tertarik, orang itu bisa saja langsung membuka produk tanpa terlebih dahulu memahami bagaimana produk tersebut bekerja maupun membaca syarat dan ketentuannya.

Karena itu, ujar Luqman, literasi perlu berjalan lebih dulu sebelum seseorang terjun ke instrumen investasi.

Selain literasi, dia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan kedisiplinan. Ketiganya menjadi hal yang saling berkaitan agar seseorang tidak hanya memiliki informasi, tetapi juga mampu menjalankannya secara konsisten.

“Literasi dulu, kemudian yang kedua pemanfaatan tools dalam bentuk AI, kemudian yang ketiga kedisiplinan,” kata Luqman.

Melalui sesi tersebut, mahasiswa Untar diajak melihat teknologi bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup digital, tetapi juga sebagai alat untuk membantu mereka lebih kritis dalam mengelola keuangan dan menyaring berbagai peluang investasi yang muncul di media sosial.

(Dhera Arizona)

SHARE