MARKET NEWS

Kenapa Harga Emas Dunia Jatuh saat Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak?

TIM RISET IDX CHANNEL 24/03/2026 10:25 WIB

Harga emas dunia justru tertekan di tengah perang Iran dan lonjakan harga minyak global.

Kenapa Harga Emas Dunia Jatuh saat Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak? (Foto: Freepik)

IDXChannel – Harga emas dunia justru tertekan di tengah perang Iran dan lonjakan harga minyak global, berbeda dengan pola lama bahwa konflik geopolitik cenderung mendorong permintaan aset safe haven.

Kenaikan harga energi yang memicu inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang menekan logam mulia.

Emas melemah pada Selasa (24/3/2026) di tengah pernyataan yang saling bertentangan terkait perang di Timur Tengah.

Mengutip Money Control, penundaan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap infrastruktur energi Iran hanya memberi jeda singkat bagi harga emas yang sebelumnya mengalami penurunan tajam selama periode konflik.

Dalam perdagangan yang volatil, emas spot sempat naik hampir 1 persen sebelum berbalik turun hingga 1,8 persen pada Selasa pagi, mengikuti pergerakan pasar saham dan hubungan terbalik dengan harga minyak.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan selama lima hari terhadap pembangkit listrik Iran dan menyebut adanya pembicaraan produktif, namun pejabat Iran membantah negosiasi dan laporan menyebut sekutu AS di Teluk Persia berpotensi ikut terlibat.

Pada Senin (23/3), emas spot ditutup turun 2,01 persen menjadi USD4.406,04 per troy ons setelah sempat anjlok lebih dari 8 persen dalam sehari.

Bahkan pada Jumat pekan lalu, emas mencatat kinerja mingguan terburuk sejak 1983, mencerminkan tekanan besar di tengah eskalasi konflik.

Secara keseluruhan, harga emas telah turun hingga 22 persen dari puncaknya pada akhir Januari lalu.

Lonjakan harga energi akibat perang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga investor mulai meninggalkan emas dan beralih ke aset lain yang lebih menguntungkan.

Harga energi yang tinggi meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga.

Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Plc, Suki Cooper, mengatakan koreksi harga emas saat ini tergolong lebih dalam dari biasanya, namun tekanan seperti ini lazim terjadi setelah periode gejolak ekstrem.

“Koreksi harga emas saat ini terlihat lebih dalam dari biasanya. Namun, bukan hal yang aneh jika emas mengalami tekanan selama empat hingga enam pekan setelah periode gejolak ekstrem, karena emas sering menjadi aset likuid yang dijual investor saat membutuhkan dana,” ujar Cooper, seperti dikutip Money Control, Selasa (24/3/2026).

Kepala Strategi Komoditas Saxo, Ole Hansen, menilai, dikutip Business Insider, Senin (23/3), meningkatnya ekspektasi inflasi telah mendorong imbal hasil obligasi dan memperkuat dolar AS, sehingga menekan logam mulia.

Strategis Komoditas ING, Ewa Manthey, menambahkan, faktor geopolitik saja tidak cukup untuk menopang harga emas dalam jangka panjang.

“Geopolitik jarang menjadi pendorong utama harga emas secara berkelanjutan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana guncangan tersebut memengaruhi inflasi, kebijakan moneter, dan pergerakan dolar,” tulis Manthey.

Blokade Iran di Selat Hormuz memperpanjang gangguan pasokan energi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi bertahan lebih lama.

Dampaknya, dolar AS menguat sementara emas dan perak tertekan karena pasar memperkirakan bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Ekonom Senior NinjaTrader, Tracy Shuchart, mengatakan kepada The New York Post, Senin (23/3), penurunan emas bukan karena investor kehilangan kepercayaan terhadap logam mulia, melainkan karena perang Iran merusak ekspektasi penurunan suku bunga.

“Krisis Selat Hormuz langsung mendorong ekspektasi inflasi, memperkuat dolar, dan menekan posisi spekulatif emas,” imbuh dia.

Di sisi lain, harga minyak justru kembali menguat di tengah gangguan pasokan global.

Harga minyak Brent naik 4,2 persen menjadi USD104,21 per barel pada Selasa pagi, berbalik menguat setelah sebelumnya anjlok sekitar 10 persen pada Senin. Sementara itu, minyak mentah AS naik 4,3 persen menjadi USD91,93 per barel.

Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia masih menghadapi risiko gangguan, sehingga tekanan inflasi diperkirakan bertahan lebih lama.

Kepala Pasar Asia Pasifik Capital Economics, Thomas Mathews, mengatakan kepada Reuters, Selasa (24/3), kerusakan infrastruktur energi akibat perang akan membuat harga energi tetap tinggi meskipun konflik mereda.

Sementara, Kepala Strategi Pasar AS Morningstar, Dave Sekera, menambahkan investor perlu bersiap menghadapi volatilitas yang berkepanjangan selama konflik berlangsung.

Secara historis, emas biasanya menguat saat perang, seperti pada invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Namun konflik Iran kali ini menghasilkan dinamika berbeda karena lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi dan suku bunga tinggi, sehingga faktor makroekonomi lebih dominan dibanding peran emas sebagai aset safe haven. (Aldo Fernando)

SHARE