MARKET NEWS

Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak, Pasar Waspadai Risiko Selat Hormuz

TIM RISET IDX CHANNEL 30/06/2026 06:46 WIB

Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah serangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak, Pasar Waspadai Risiko Selat Hormuz. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah serangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap rapuhnya kesepakatan damai sementara kedua negara.

Namun, harapan pemulihan aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menahan laju kenaikan harga.

Tim teknis Iran dan AS yang bertugas membahas penerapan kesepakatan damai sementara diperkirakan bertemu di Doha dalam beberapa hari mendatang.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah aksi saling serang pada akhir pekan mengancam keberlangsungan kesepakatan tersebut.

Harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka ditutup naik 1,61 persen menjadi USD73,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2 persen menjadi USD70,75 per barel.

Harga Brent sebelumnya jatuh 10,6 persen sepanjang pekan lalu, mencatat penurunan mingguan ketiga secara beruntun setelah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada televisi pemerintah pada Senin bahwa para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan mengenai penentuan ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.

Ia menambahkan bahwa Iran akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang berada di luar jalur yang telah ditentukan.

Analis Gelber & Associates menyebut dalam catatan pada Senin bahwa ekspor minyak mentah keluar dari Teluk Persia dengan cepat pulih hingga setidaknya 75 persen dari level sebelum perang.

Namun, para analis mengingatkan bahwa lalu lintas kapal melalui selat tersebut masih jauh dari pulih sepenuhnya, sehingga membantu menjaga harga minyak tetap berada di level yang relatif tinggi.

“Saya pikir kenyataan mulai disadari pasar. Tidak semua barel minyak akan keluar dari Teluk dalam satu atau dua pekan ke depan. Kapasitas pengiriman juga tidak bisa langsung dipaksa kembali ke level sebelum perang. Selama situasinya masih berisiko, setiap pemilik kapal menghadapi risiko kapalnya diserang saat melintasi selat tersebut,” kata Direktur Futures Energi di Mizuho, Bob Yawger, dikutip Reuters.

Menurut Yawger, keberadaan ranjau di perairan serta perusahaan asuransi yang belum sepenuhnya kembali mendukung aktivitas pelayaran juga menjadi faktor yang membebani lalu lintas melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, produsen energi Timur Tengah tetap melanjutkan aktivitas pemuatan minyak dan LNG meskipun terjadi serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz serta meningkatnya kembali serangan antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir, berdasarkan data pelayaran.

Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, kembali melakukan pemuatan minyak mentah pada Jumat di terminal Ras Tanura, yang berada di sebelah barat Selat Hormuz, setelah aktivitas tersebut dihentikan selama hampir empat bulan.

Aktivitas pemuatan tetap berlangsung meskipun sebuah helikopter milik perusahaan jatuh pada Minggu di Ras Tanura dan menewaskan 14 warga negara. Penyebab kecelakaan tersebut masih belum diketahui. (Aldo Fernando)

SHARE