Ketika Kepanikan Pasar Surut, Fundamental Kembali Jadi Acuan
Setelah berbulan-bulan dibayangi ketidakpastian kebijakan hingga tekanan nilai tukar, fokus investor kini bergeser ke fundamental ekonomi yang sesungguhnya.
IDXChannel – Pasar saham Indonesia dinilai mulai memasuki fase baru. Setelah berbulan-bulan dibayangi ketidakpastian kebijakan, tekanan nilai tukar, hingga kekhawatiran keluarnya Indonesia dari indeks MSCI Emerging Markets, fokus investor kini bergeser ke fundamental ekonomi yang sesungguhnya.
Dalam riset bertajuk Repricing the Reality, Not the Panic yang terbit pada Senin (20/7/2026), analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto dan Wilbert Arifin menilai pasar kini tengah menyesuaikan ekspektasi terhadap realitas ekonomi, bukan lagi bereaksi atas kepanikan.
Sejalan dengan perubahan tersebut, Mirae Asset memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2026 menjadi 6.800.
Proyeksi itu mencerminkan valuasi price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,1 kali atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, dengan potensi kenaikan sekitar 10,1 persen dari level saat ini.
Menurut Mirae, perubahan proyeksi didorong oleh lingkungan suku bunga yang diperkirakan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.
Bank Indonesia (BI) diproyeksikan masih menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi hingga mencapai 6 persen guna menjaga stabilitas rupiah, setelah sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sepanjang Mei dan Juni.
Kenaikan suku bunga tersebut telah mendorong imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melonjak sekitar 270 basis poin sejak Februari.
Sementara itu, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih relatif terbatas, sekitar 80 basis poin, karena ditopang pembelian obligasi oleh BI yang mencapai hampir Rp400 triliun sepanjang semester I-2026.
Namun, ketika intensitas pembelian mulai dinormalisasi, Mirae memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun bergerak menuju 7,5 persen.
Kondisi tersebut, ditambah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipangkas menjadi 4,8 persen pada 2026, membuat Mirae mengambil sikap yang lebih defensif terhadap pasar saham.
Meski demikian, Mirae melihat sejumlah sentimen negatif yang selama ini membebani pasar mulai mereda.
Risiko reklasifikasi Indonesia ke indeks frontier markets oleh MSCI belum terjadi setelah lembaga tersebut mempertahankan Indonesia di indeks Emerging Markets dan menunda evaluasi hingga November 2026.
Di sisi lain, S&P mempertahankan outlook stabil Indonesia, defisit fiskal semester I-2026 tetap terjaga di level 0,76 persen terhadap PDB, belanja program prioritas mulai dirasionalisasi, serta implementasi kebijakan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai tidak seluas yang sebelumnya dikhawatirkan.
Valuasi pasar pun dinilai sudah mencerminkan skenario yang terlalu pesimistis. Pada level P/E sekitar 9,2 kali, IHSG menjadi salah satu pasar saham termurah di antara negara berkembang (EM).
“Pasar telah mencerminkan skenario yang lebih buruk daripada yang didukung oleh data,” tulis analis Mirae.
Mirae menilai arus keluar dana asing belakangan lebih banyak dipengaruhi penyesuaian indeks secara pasif dibandingkan aksi jual aktif investor.
Mirae memperkirakan pemulihan IHSG berlangsung secara bertahap, didukung meningkatnya kepastian kebijakan fiskal, stabilisasi rupiah pada paruh kedua 2026, serta potensi kembalinya minat investor asing setelah peninjauan MSCI pada November mendatang.
Dalam skenario optimistis, IHSG berpotensi mencapai 7.800 apabila pertumbuhan ekonomi lebih kuat, rupiah menguat mendekati Rp16.800 per USD, serta ketidakpastian terkait MSCI berakhir.
Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, IHSG dapat turun ke level 5.500 jika pertumbuhan ekonomi kembali melemah, rupiah terdepresiasi hingga Rp20.000 per USD, dan risiko reklasifikasi ke indeks frontier MSCI kembali meningkat.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Mirae merekomendasikan delapan saham pilihan, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Nama lainnya, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.