MARKET NEWS

Kinerja Cemerlang Tapi Harga Masih Landai, Begini Proyeksi Analis Soal Saham BBCA

Taufan Sukma Abdi Putra 12/04/2026 20:27 WIB

BBCA berhasil menyisihkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, atau meningkat 4,9 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Kinerja Cemerlang Tapi Harga Masih Landai, Begini Proyeksi Analis Soal Saham BBCA   (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), atau Bank BCA, telah merilis capaian kinerjanya di 2025 lalu, dengan realisasi pendapatan operasional sebesar Rp111,1 triliun, atau tumbuh 5,4 persen dibanding capaian pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari capaian pendapatan tersebut, BBCA berhasil menyisihkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, atau meningkat 4,9 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Meski begitu, anomali terjadi ketika harga saham BBCA di bursa domestik justru terus merosot, seiring dengan massifnya aksi jual oleh sejumlah investor asing.

"Karena itu, proyeksinya (untuk saham BBCA) ke depan bakal kembali menguat, seiring dengan fundamental yang kuat, terutama dari sisi kinerja keuangan yang terus tumbuh berkelanjutan," ujar Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, dalam keterangan resminya, Jumat(10/4/2026).

Sejak awal 2026, harga saham BBCA memang mengalami penurunan hingga 19 persen hingga 7 April 2026 lalu. Tren pelemahan tersebut sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga mengalami hal serupa, dengan pelemahan mencapai 15,79 persen (year to date/YtD).

Menurut Rendy, laba BBCA pada 2025 lalu tercatat jauh lebih besar dibanding total harga perusahaan (market cap) dari puluhan bank menengah yang melantai di bursa.

Tak hanya itu, BBCA memiliki dana murah (CASA) yang cukup melimpah, efisiensi operasional, dan memiliki nasabah yang sangat loyal.

"Bukan hanya fundamentalnya saja yang kuat, tapi benar-benar 'anti-badai'," ujar Rendy.

Sebagai bank jumbo, BBCA saat ini sedang mengalami anomali harga saham yang relatif langka, di mana saat laba perusahaan terus mencetak rekor fantastis, harga sahamnya justru terus turun dalam porsi yang cukup signifikan.

Karenanya, Rendy menyebut bahwa fenomena itu sebagai salah satu sinyal beli, seperti halnya 'bom waktu capital gain' yang tinggal menunggu pemicu untuk meledak.

Secara historis, menurut Rendy, pasar selalu menghargai kualitas BBCA dengan valuasi premium. Sebagai penguasa pasar, saham ini biasanya melenggang santai di tingkat rasio Price to Book Value (PBV) normalnya di kisaran 4x hingga 5x. 
Namun, lantaran dipicu kepanikan sesaat di bursa global dan rotasi sektor, harga saham BBCA seolah dipaksa turun drastis.

"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (blue chip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," ujar Rendy.

Karenanya, dengan analisa tersebut, Rendy memproyeksikan bahwa saat kepanikan pasar mereda, harga BBCA tidak hanya akan berjalan merangkak, tapi berlari kencang kembali menuju normalisasi valuasinya di level PBV 4x.

Sedangkan potensi lonjakan keuntungan (capital gain)terjadi dengan sangat masif bagi siapa pun yang berani mengambil posisi di bawah.

Rendy pun mengimbau pada para investor untuk mencermati kinerja BBCA kuartal I/2026 yang akan segera dirilis ke publik.

Dengan tren efisiensi dan penyaluran kredit yang terus melesat, laporan bulan April 2026 diprediksi akan kembali memamerkan angka laba jumbo yang menyilaukan mata pasar.

"Ketika laporan resmi keluar, institusi besar dan manajer investasi raksasa akan berebut masuk kembali. Jika Anda baru mau membeli saat berita bagus itu menyebar di publik, maka akan terlambat. Anda akan terpaksa membeli di harga puncak," ujar Rendy.

(taufan sukma)

SHARE