Koreksi Saham Bank Besar Sudah Berlebihan, Kapan Benar-Benar Bangkit?
Saham-saham perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun ini.
IDXChannel – Saham-saham perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun ini. Analis menilai koreksi yang terjadi sudah melampaui penurunan fundamental, sehingga membuka ruang bagi rebound harga saham sektor perbankan.
BRI Danareksa Sekuritas bahkan menaikkan rekomendasi sektor perbankan menjadi Overweight. Menurut mereka, aksi jual yang terjadi telah mendorong valuasi bank-bank besar ke level yang sangat murah dibandingkan rata-rata historisnya.
Setelah terkoreksi 15 persen-36 persen sejak awal tahun, valuasi saham perbankan kini diperdagangkan di atas minus tiga standar deviasi dari rata-rata 5 tahun.
Kondisi tersebut mengimplikasikan ekspektasi kontraksi laba 2026 yang dinilai terlalu konservatif, yakni mencapai 22,8 persen untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), 14,9 persen untuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), 12,7 persen untuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan 11,1 persen untuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
BRI Danareksa menilai asumsi pasar tersebut tidak sejalan dengan rekam jejak profitabilitas perbankan nasional yang selama ini relatif kuat.
Dari sisi fundamental, BBCA dan BMRI dinilai masih memiliki kualitas franchise terbaik di industri.
Sementara itu, BBCA, BBRI, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) diperkirakan lebih tangguh menghadapi tekanan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Sebaliknya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dinilai paling rentan terhadap penurunan kualitas aset.
Analis juga memperkirakan tren kompresi NIM masih membayangi sektor perbankan. Namun, BBCA dipandang sebagai bank yang paling defensif berkat basis dana murah atau current account savings account (CASA) yang kuat.
Pandangan positif terhadap sektor perbankan juga disampaikan pengamat pasar modal Michael Yeoh. Menurut dia, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) justru menjadi salah satu katalis yang mendorong pemulihan harga saham bank-bank besar.
"CASA ratio bank-bank besar berada di kisaran 80 persen, sehingga biaya dana mereka relatif rendah. Ketika suku bunga naik, spread antara suku bunga kredit dan biaya dana menjadi lebih besar, yang berpotensi meningkatkan NIM," ujar Michael.
Ia menambahkan, prospek tersebut memicu minat beli investor domestik dalam jumlah signifikan. Aksi beli tersebut mampu menyerap tekanan jual investor asing yang sebelumnya mendominasi perdagangan saham perbankan.
Menurut Michael, pergerakan harga yang terjadi belakangan menunjukkan pola V-shape recovery, yakni pemulihan cepat setelah sempat menembus level bawah secara semu (false break).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan tren kenaikan masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.
BRI Danareksa menempatkan BBCA sebagai pilihan utama (top pick) sektor perbankan dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp10.900 per unit. Pilihan berikutnya adalah BTPS yang dinilai memiliki profitabilitas aset yang kuat dan tingkat leverage yang rendah.
Selain BBCA, rekomendasi buy juga diberikan kepada BMRI dengan target harga Rp6.200, BBNI Rp4.700, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp3.100, BBTN Rp1.500, BTPS Rp1.400, dan BNGA Rp2.100 per unit.
Meski prospek mulai membaik, BRI Danareksa mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko penurunan kualitas aset dan tekanan lanjutan terhadap NIM yang masih dapat memengaruhi kinerja sektor perbankan ke depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.