Koreksi Tajam Pasar Indonesia Dinilai Buka Peluang Akumulasi Saham
Tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia dinilai justru membuka peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi aset.
IDXChannel – Tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia dinilai justru membuka peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi aset di level valuasi yang lebih menarik.
Meski arus keluar dana asing masih berlanjut, sejumlah investor global disebut mulai kembali mencermati pasar Indonesia.
Head of Research Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim mengatakan pelemahan pasar tahun ini lebih dipicu oleh sentimen ketimbang perubahan pada fundamental ekonomi nasional.
"Prospek jangka panjang pasar saham Indonesia belum berubah," kata Chenlim, dikutip Dow Jones Newswires, Jumat (10/7/2026).
Menurut dia, Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat berupa pasar domestik yang besar, sektor perbankan yang solid, serta kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah.
"Pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat, hanya sentimen pasar yang sedang lemah," ujarnya. "Begitu sentimen itu berbalik, kita akan melihat reli besar di pasar."
Meski demikian, Maybank Sekuritas memperkirakan gejolak pasar masih berlanjut hingga MSCI mengumumkan hasil peninjauan status Indonesia di indeks pasar negara berkembang (emerging market) pada November mendatang.
Awal tahun ini, MSCI memperingatkan Indonesia berpotensi diturunkan ke kategori frontier market.
Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham, yang kemudian diikuti meningkatnya kehati-hatian investor asing.
Sejumlah penyedia indeks dan lembaga pemeringkat juga turut menyoroti isu transparansi pasar dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Chenlim mengatakan, skenario penurunan status tersebut bukan merupakan proyeksi utama atau base case Maybank Sekuritas.
Namun, hingga keputusan MSCI diumumkan, pasar diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Maybank Sekuritas memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir 2026 menjadi 7.500 dari sebelumnya 8.400.
Meski lebih rendah, target tersebut masih mencerminkan potensi kenaikan dari posisi IHSG saat ini di kisaran 5.900.
Selain saham, pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai menghadirkan peluang investasi.
"Kami melihat ada dua titik masuk investasi yang sangat menarik," kata Chenlim, merujuk pada pasar saham dan rupiah.
Menurut dia, valuasi aset Indonesia saat ini sudah cukup murah.
Namun, investor tetap disarankan menerapkan pendekatan ala Warren Buffett dengan memilih emiten yang memiliki tata kelola perusahaan yang baik, neraca keuangan yang sehat, arus kas yang kuat, serta kinerja laba yang konsisten.
Chenlim juga mengungkapkan bahwa di tengah derasnya arus keluar dana asing, investor ritel domestik masih menjadi penopang aktivitas perdagangan.
Sementara itu, kata Chenlim, sejumlah investor institusi dari Inggris dan Amerika Serikat (AS) mulai kembali memantau peluang investasi di Indonesia.
"Mereka mencermati Indonesia dengan sangat saksama," ujarnya.
Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi, Maybank Sekuritas menjagokan saham-saham defensif seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
"Jika kondisi ekonomi memburuk, saya rasa perusahaan-perusahaan itu akan mampu melewati masa sulit dengan cukup baik," kata Chenlim.
Menurutnya, perbaikan koordinasi kebijakan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir mulai memberikan sinyal positif bagi investor.
"Dengan pengalaman saya hampir 20 tahun di lapangan, saya melihat ini merupakan upaya reformasi yang serius," ujarnya.
"Kalau melihat dua bulan terakhir, koordinasi kebijakan sudah membaik. Karena itu, sebagian investor mulai memanfaatkan pelemahan pasar untuk membeli saham. Jadi, menurut saya ini perkembangan yang baik karena pasar telah memberikan sinyal, dan pemerintah mulai mendengarkannya." (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.