Kualitas Pendanaan Jadi Pembeda, Bank Mana Paling Diuntungkan?
Kualitas pendanaan (funding quality) menjadi faktor pembeda utama kinerja bank pada paruh kedua 2026.
IDXChannel - Kualitas pendanaan (funding quality) menjadi faktor pembeda utama kinerja bank pada paruh kedua 2026.
Di tengah pertumbuhan kredit yang masih kuat, bank dengan pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) yang lebih tinggi dinilai memiliki posisi lebih baik untuk menjaga margin dan profitabilitas.
Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan menilai kondisi tersebut semakin terlihat dari kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) hingga Juli 2026.
Dalam riset yang terbit pada 20 Agustus 2026, Posmarito menyebut laba perbankan masih relatif tangguh meski kondisi likuiditas semakin menantang.
Namun, tren neraca menunjukkan perbedaan yang semakin lebar antara bank dengan pertumbuhan yang ditopang pendanaan organik dan bank yang lebih bergantung pada likuiditas kebijakan.
Kualitas pendanaan dinilai menjadi semakin penting karena dana murah dari nasabah cenderung memiliki biaya lebih rendah dan lebih stabil dibandingkan deposito berjangka maupun penempatan dana pemerintah.
BBCA menjadi salah satu bank yang dinilai paling diuntungkan dari kondisi tersebut. Hingga Juli 2026, CASA BBCA tumbuh 10,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sebesar 8,4 persen. Pada saat yang sama, deposito berjangka justru turun 5 persen.
Kondisi tersebut membuat loan to deposit ratio (LDR) BBCA tetap rendah di level 79,6 persen.
Dengan struktur pendanaan tersebut, BBCA dinilai memiliki ruang yang lebih besar untuk menikmati kenaikan imbal hasil aset tanpa harus menghadapi kenaikan biaya dana dalam tingkat yang sama.
Kinerja BBCA juga mulai menunjukkan perbaikan momentum. Laba bersih sepanjang tujuh bulan pertama 2026 hanya tumbuh 1,6 persen secara tahunan.
Namun, pada Juli 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 3,9 persen dan laba bersih tumbuh 5 persen secara tahunan.
Pendapatan bunga BBCA juga tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada Juli, meningkat signifikan dari pertumbuhan 1,5 persen sepanjang tujuh bulan pertama 2026.
Menurut Posmarito, kenaikan imbal hasil obligasi, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta repricing kredit berpotensi menopang pertumbuhan laba BBCA pada paruh kedua tahun ini.
Berbeda dengan BBCA, BMRI menghadapi tantangan pendanaan yang lebih besar meski pertumbuhan kredit dan labanya jauh lebih tinggi.
Kredit BMRI tumbuh 19,5 persen secara tahunan hingga Juli 2026, sementara CASA hanya meningkat 6,6 persen. Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, deposito berjangka melonjak 61,1 persen.
Akibatnya, rasio CASA BMRI turun menjadi 70,4 persen, sedangkan LDR meningkat menjadi 94,8 persen pada Juli 2026.
Tekanan tersebut mulai terlihat pada laporan laba rugi.
Beban bunga BMRI pada Juli meningkat 13,1 persen secara bulanan, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga sebesar 5,2 persen. Kondisi ini membuat NII relatif datar secara bulanan.
Meski demikian, terdapat tanda positif karena pendapatan bunga BMRI tumbuh 16,7 persen secara tahunan pada Juli. Hal ini mengindikasikan repricing aset mulai mengejar kenaikan biaya pendanaan.
“Pertanyaan utama untuk paruh kedua 2026 adalah apakah imbal hasil aset dapat naik lebih cepat dibandingkan biaya pendanaan,” tulis Posmarito.
Likuiditas Kebijakan Belum Menyelesaikan Masalah Pendanaan
Perbedaan struktur pendanaan tersebut terjadi ketika pertumbuhan likuiditas perekonomian tidak sepenuhnya diikuti oleh pertumbuhan dana murah perbankan.
Pertumbuhan uang beredar luas atau M2 melambat menjadi 8,7 persen secara tahunan pada Juni 2026 dari 10,8 persen pada Mei 2026.
Sebaliknya, pertumbuhan kredit tetap kuat, terutama pada segmen korporasi yang tumbuh 19,3 persen dan kredit investasi sebesar 22,5 persen.
Kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) bahkan tumbuh 29,9 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hanya sekitar 1 persen dan kredit rumah tangga 3,5 persen.
Menurut Posmarito, kondisi tersebut menunjukkan permintaan kredit masih belum merata. Pertumbuhan terutama terkonsentrasi pada korporasi dan investasi, sementara kredit UMKM serta rumah tangga masih relatif lemah.
Di sisi pendanaan, terdapat dua sumber likuiditas yang semakin terlihat, yakni penciptaan deposito secara organik dari sektor swasta dan likuiditas yang berasal dari kebijakan pemerintah maupun insentif Bank Indonesia (BI).
Posmarito menilai perbedaan tersebut penting karena CASA yang terbentuk secara organik cenderung lebih murah dan lebih stabil dibandingkan deposito berjangka atau penempatan dana pemerintah.
Penempatan likuiditas pemerintah di bank-bank BUMN memang membantu meredakan tekanan dalam jangka pendek.
Suku bunga pasar uang antarbank turun menjadi sekitar 6 persen dari level tertinggi tahun ini sebesar 6,6 persen, meski masih berada di atas tingkat suku bunga acuan.
Namun, kebutuhan terhadap suntikan likuiditas berulang juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian struktural pada bank BUMN.
Pertumbuhan kredit korporasi, infrastruktur, dan kredit berbasis kebijakan berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana organik.
LDR gabungan lima bank BUMN besar bahkan mencapai sekitar 91 persen pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 88,3 persen.
KopDes Jadi Ujian Bank BUMN
Periode September hingga Desember 2026 akan menjadi periode penting bagi bank Himbara.
Mulainya pembayaran kembali kredit Koperasi Desa Merah Putih (KopDes) diharapkan dapat mengurangi tekanan dari penyaluran kredit senilai sekitar Rp55 triliun oleh masing-masing BMRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Pembayaran tersebut juga akan menjadi ujian awal apakah mekanisme penyaluran kredit berbasis kebijakan tersebut mampu mengembalikan likuiditas ke neraca bank BUMN.
Jika pembayaran KopDes berjalan lancar, pertumbuhan deposito berjangka mulai melambat, dan LDR kembali stabil, kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi bank BUMN.
UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi market weight untuk sektor perbankan.
Menurut Posmarito, valuasi yang menarik dan kualitas aset yang masih tangguh memberikan perlindungan terhadap risiko penurunan, tetapi kondisi likuiditas yang lebih ketat, permintaan kredit yang tidak merata, serta intervensi kebijakan masih membatasi profitabilitas sektor.
Sorotan ke BBCA
Di antara saham bank yang dicakup, BBCA menjadi pilihan utama.
Keunggulan CASA, LDR yang rendah, serta likuiditas berlebih membuat BBCA dinilai dapat memperoleh manfaat lebih besar dari kenaikan imbal hasil aset tanpa menghadapi peningkatan biaya pendanaan dalam skala yang sama.
Nantinya, perubahan yang dapat membuat pandangan terhadap sektor perbankan menjadi lebih positif antara lain stabilnya likuiditas pasar uang dan harga deposito, melambatnya pertumbuhan deposito berjangka bank BUMN, keberhasilan pembayaran KopDes pada September-Desember 2026, serta pemulihan permintaan kredit komersial, UMKM, dan rumah tangga.
Perkembangan yang paling penting adalah apakah pertumbuhan kredit korporasi dan investasi akhirnya mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan deposito organik.
Jika hal tersebut terjadi, likuiditas yang saat ini masih banyak ditopang kebijakan dapat mulai berubah menjadi penciptaan uang yang lebih mandiri dari sektor swasta. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.